Tampilkan postingan dengan label cerpen cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen cinta. Tampilkan semua postingan

Cerpen Cinta - Memang Iya

Berikut adalah sebuah cerpen cinta sebagai update kumpulan cerpen di blog ini... semoga bisa menjadi bacaan menarik ...

MEMANG IYA
Karya Binti Kholifah

Suara teriakan bude telah membangunkan Vira dan memaksanya untuk segera mandi. Namun hari ini badan Vira sedang tak enak. Badannya demam. Selesai mandi dia harus segera sholat dan setelah itu sarapan. Namun karena sedang tak enak badan dia kembali tidur.
“neng Vira, kenapa malah tidur lagi? Neng  ditinggal tuh sama neng Revi,”seru bude.
“biarin kak Revi berangkat duluan,”balas Vira.
“ya ampun neng demam gini. Ya udah hari ini neng gak usah masuk dulu, biar bude izinin,”ucap bude setelah memegang badanku.
“haaa??? Nggak nggak nggak. Hari ini aku harus berangkat,” balas Vira.
“ya kalau gitu neng harus tunggu pakde pulang. Lagian neng yakin, inikan udah jam tengah 7,”peringatan bude.
“gak apa2 de, palingan kalau telat cuma suruh nulis doang. Ya udah Vira tunggu di depan ya de,”teriak Vira yang langsung berlari ke halaman rumah.
Belum lama menunggu pakdepun datang. Virapun langsung berangkat.
“neng, tadi bel masuk sekolah udah bunyi lo,”ucap pakde.
“haa? Ah biarin masa bodoh, kalau gitu cepet pakde,”ucap Vira.

        Akhirnya Vira sampai di sekolah. Betapa terkejutnya Vira setelah tahu guru piket hari ini adalah guru yang paling killer di sekolah. Vira mencoba kabur dari hukuman, namun pak guru telah menangkap vira dari belakang. Virapun dihukum untuk berdiri di bawah tiang bendera hingga bel istirahat jam 9 nanti karena dia murid terakhir yang terlambat. Sederet teman-teman Vira juga berdiri di sampingnya. Namun Cuma sebentar karena mereka Cuma terlambat 10 menit. Sedangkan Vira sudah terlambat 30 menit.
“kak, sejak kapan lo disini?”Tanya Vira pada salah satu kakak kelas yang juga dihukum karena terlambat.
“8 menit yang lalu. 30 menit lagi kakak juga bakalan ke kelas. Oh ya nama kakak Randy, kamu siapa,” balas Randy.
“hmm,”jawab Vira sambil menunjukkan nama di bajunya.
“oh. Kamu adiknya Revi?”Tanya randy pada Vira.
“kok tahu?”Tanya balik Vira.
“mirip,”jawab singkat Randy.
Tak terasa 30 menit telah berlalu, Randypun telah mendahului Vira ke kelas.
“duluan ya,”ucap Randy.
“hm,”balas Vira singkat.

        Rasanya kepala Vira berat sekali, namun hukuman masih lama. Vira mencoba bertahan. Alasannya untuk berhenti dari hukuman tak dianggap sama sekali oleh pak guru. Virapun harus melanjutkan, hingga akhirnya hukuman Virapun telah selesai. Randy berpapasan dengannya. Terlihat wajah pucat Vira. Belum lama berpapasan, Vira jatuh pingsan. Randypun segera membawa Vira ke UKS.
“Vira,”panggil Revi.
“elu kak, gara-gara lu sih. Kalau tadi lu gak ninggalin Vira, pasti jadinya gak bakalan kayak gini,”ucap Vira.
“maaf deh Vir, kamu minta apa deh,”kata Revi.
“eh Vira, kamu udah sadar. Revi kamukan belum balas permintaan aku kemarin,”sahut Randy.
“eh Randy, lo gak usah ngarep ya. Lagian lokan tau kalo gue udah sama dia,”balas Reva.
“ya udah, maaf kalu selama ini aku udah ganggu kamu,”ucap Randy yang langsung pergi dari UKS.
Berulang kali Vira telah bicara pada Revi, kalau jangan bersikap seperti itu pada seorang. Namun omongan Vira tak sedikitpun dianggap.

        Bel pulang sekolah[un bordering. Vira telah menunggu kakaknya dimobil pakde.
“hey Vira! Mmm,hari ini kakak mau jalan sama pacar kakak. Jadi hari ini kamu pulang sama temen kamu ya. Soalnya pakde biar nganterin kakak jalan,”ucap Revi yang langsung menyuruh Vira keluar dari mobil.
Mobilpun melaju cepat. Memang itulah Revi. Anak yang suka gonta-ganti pacar.
“huuh, kalau gini gua pulang sama siapa?”ucap Vira kesal.
“yuk Vira pulang sama kakak!”ajak Randy yang tiba-tiba muncul.
Virapun tak bisa menolak ajakan Randy. Di sepanjang perjalanan pulang, mereka saling bercerita tentang Revi.
“ya udah makasih ya kak, lu udah mau nganterin Vira,”ucap Vira.
“iya sama-sama,”balas randy.
Dua jam kemudian Revi pulang. Wajahnya seperti habis dibakar.
“kenapa lu kak?”Tanya Vira.
“hiiih, sebel sebel sebeeel. Kakak diputusin lagi. Padahal sepanjang sejarah kakak, kakak yang selalu mutusin,”jawab Revi.
“kasihaaan deh kakakku tersayang. Itu akibatnya. Udah berapa kali kakak pacaran?”Tanya Vira lagi.
“emmm, 1 2 3 mmm udah 42 kali kakak pacaran dan mutusin pacar, tapi kali ini huuu. Tapi gak papa kakak masih punya 2 lagi,”ucap Revi.
Vira hanya bisa ngowoh dengerin kakaknya.

        Esok harinya, Revi pulang dengan membawa cerita yang sama seperti kemarin.
“ampun deh kakak. Vira capek dengerin lu mulu. Virakan udah bilang cowok-cowok yang kakak pacarin gak ada yang sungguh-sungguh. Cuma kak Randy tuh yang tulus,”nasihat Vira.
“dia tuh kutu buku. Kalau kakak pacaran sama dia, bisa-bisa kakak gak diacuhin ma dia,”balas kakak.
“terserah lu ya kak. Yang penting vira udah ngomong. Giliran ada yang tulus aja dibiarin. Sekarang pacar kakak tinggal 1 doank kan, kasihaaan de lu,”ucap Vira.
“hiiiih, nyebelin kamuuu,”teriak Revi.
Esok harinya, Revi bertengkar lagi dengan pacarnya. Hingga dia di dorong-dorong. Pacarnya seligkuh. Namun Randy datang menolong Revi, dan disitu terjadi perkelahian kecil antar Randy dan pacar Revi.
“ya ampun Randy, ngapain lo nolongin gue. Biarin aja kali dia kayak gitu,”ucap Revi
“hee, gak papa kali Rev,”balas Randy.
“naaaaah gini donk. Kalu sama-samakan enak dilihatnya,”sahut Vira.
“Iiiih, apa-apan sih. Najis gue pegang tangan lo Ran,”ucap Revi yang langsung pergi meninggalkan Randy.

        Suatu sore Reva pulang dengan murung lagi. Dia masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya. Virapun datang menghampiri Revi.
“ngapain lagi lu kak?”Tanya Vira.
“Viraaaaa, kakak ditolak sama cowok,”ucap Revi sambil memeluk kakaknya.
Vira melepas pelukan kakaknya dan menelan ludah banyak-banyak.
“hahahaha, kasian kakakku. Makanya Virakan udah bilang Cuma kak Randy yang tulus sama kakak. Ya mungkin dia emang kutu buku sekarang. Tapikan belum pasti dia itu super cuek. Lagian kalau dia gak pedulian, ngapain juga dia tadi siang nolongin lu?”ucap Vira panjang lebar.
“iya juga sih Vir, tapi tetep aja dia itu super kutu buku,”balas Revi
“kakakkan belum coba,”ucap Vira lagi.
“eh Vira, tapi apa salahnya kalu kakak cari pacar lagi. Mungkin tadi kakak ditolak, tapi mungkin aja besuk kakak diterima,”ucap Revi
“aah, terserah lu deh kak. Oya hari ini Vira mau ketemu ma kak Randy di taman. Kalau mau ikut ntar jam setengah 4,”ajak Vira yang langsung pergi dari kamar.
“iya juga sih Randy tulus. Lagian gue juga suka sama dia. Cuma gue sok-sokan gak suka aja, gue coba ah,”ucap Reva pada hatinya.

        Tibalah saatnya jam setengah 4. Vira telah duduk berdua dengan Randy.
“aduh kak, tolong tiupin mata Vira dong,”pinta Vira pada Randy.
Tanpa pikir panjang, Randy segera meniup mata Vira.
Ternyata Reva melihat hal itu. Revapun berbalik badan dan pergi.
Namun Vira dan Randy mengejar Reva.
“eh eh eh kak. Tuh kan lu cemburu. Itu artinya lu emang bener-bener suka ma kak Randy,”ucap Vira.
“apaan sih,”balas Reva kesal.
“heh, lagian tadi Cuma akal-akalan kita biar ketahuan kalau kakak cemburu,”ucap Vira lagi.
“haaa? Jadi gue dikerjain. Oh my god,”keluh Reva.
“maaf ya. Tapi ini satu-satunya cara. Kamu tenang aja Rev. aku pasti akan perhatiin kamu kok, jadi gak usah khawatir dan cemburu sama buku,”ucap Randy.
“maaf juga ya gue selama ini udah sok-sokan cuek sama elo. Tapi sebenarnya emang iya gue sayang ma lo,”balas Reva.
“wah, udah resmi nih. Ya udah have fun ya, gua tinggal dulu daa,”ucap Vira yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua.

SELESAI
----------------------
Karya : Binti Kholifah
email : puengenpintar@yahoo.co.id
----------------------- 

artikel terkait :
cerpen cinta - menemukanmu
cerpen cinta - 1my boyfriend
cerpen cinta - janji terakhir

Cerpen Cinta - Menemukanmu

"MENEMUKANMU"
Oleh : Veronika Marsudiati

Aku lemah,.
Aku lelah.,
Aku tak sanggup untuk bertahan,.
Mengharap hal tak pasti.,
bagiku ia masa lalu
Aku tak mau berlarut dalam kesedihan.,
Sampai akhirnya.,
Aku mengenalmu.,
Menyukaimu.,
Menyayangimu dan.,
Akhirnya aku "MENCINTAIMU"
Hembusan anginyang selalu hadir.,
Hadir tuk sampaikan.,
Rasa rindu akan hadirmu.,
Bulan tersenyum saat aku tau.,
Kau disana juga merindukanku.,
Bintang bersinar seakan.,
Menghantarkan ku tuk bersamamu.,
Menemanimu dalam gelapnya malam.,
Sayang.,.,,,,.,
Tuntun aku ketika aku terjatuh.,
Terluka.,
Sakit dan,.
Ketika aku menangis.,
Aku berharap kau selalu ada di sampingku.,
menemaniku saat aku dalam kondisi apapun.,
Sayang.,.,.,.,.
Aku tak sempurna namun kasihku sempurna.,.
Sayangi aku dengan Tulus.,.
Setulus aku menyayangimu.,
Jangan buat aku pelampiasanmu.,.
"Karena Aku Mencintaimu"

Cerpen cinta ini adalah karya Veronika Marsudiati
email : lempereuy@ymail.com

artikel terkait :
cerpen cinta - 1my boyfriend
cerpen cinta - janji terakhir
cerpen cinta - aku pasti kembali
cerpen cinta - pergilah kau

Cerpen Cinta: DIA MILIKKU

Cerpen Cinta
Cerpen Cinta DIA MILIKKU
Oleh : Mimin Khoirum Widiawati

Cerpen Cinta DIA MILIKKU


        “Udahlah Ka! Kamu ternyata gak sebaik yang aku kira! Mendingan sekarang kita PUTUS!”
Kata-kata itu selalu terngiang ditelingaku. Aku putus dengan Judika. Orang yang sudah menjadi pacarku selama 3 bulan ini. Sungguh aku sangat sayang padanya. Tapi dia sudah menghancurkan kepercayaan yang telah kuberikan untuknya. Tapi, aku tidak ingin mengingat hal ini lagi. Aku harus melupakannya.

“Hai Ra.” Sapa Syifa, sahabatku
“ Hai juga Fa. Kamu sama siapa kerumahku?” tanyaku
“Sama pacar baruku. Kenalin, Judika ini Dira. Dira, ini Judika.” Kata Syifa yang amat sangat mengagetkanku. Kenapa bisa Syifa pacaran dengan mantanku? Memang salahku, yang gak pernah ngenalin Judika ke Syifa. Tapi emang dasarnya Judika playboy. Baru putus seminggu udah gandeng pacar baru. Aku pun berkenalan dengan Judika, dan seolah-olah aku tidak mengenalnya di hadapan Syifa. Aku tidak ingin menyakiti hati sahabatku.

Setelah kejadian itu, hampir tiap hari aku murung. Aku masih sangat menyayanginya. Tapi kenapa dia pacaran dengan sahabatku sendiri? Oh Tuhan. Aku bingung sekarang. Kadang muncul dibenakku rasa bersalah telah memutuskan Judika. Tapi, aku juga marah, karena waktu itu aku melihat dengan mataku sendiri kalau Judika selingkuh. Ahh! Aku bingung!! Tapi, aku mencoba untuk melupakan Judika dan berdoa yang terbaik untuk Syifa. Dan semoga juga, Syifa tidak disakiti oleh Judika.
Sebulan telah berlalu. Perlahan-lahan aku sudah mulai bisa melupakan Judika. Aku sudah mulai bisa melupakan sosok yang telah membuat hatiku sakit berulang kali itu. Terimakasih Tuhan, Engkau sedikit-sedikit sudah membantuku menghapus kenangan Judika. Hingga suatu hari di kelas. . . . .

“Ra. Lagi ngapain?” tanya Syifa tiba-tiba mengagetkanku
“Eh, kamu Fa. Ngagetin aja. Ini nih, aku lagi ngetik laporan buat dikumpulin ke Bu Eli besok. Kamu gak ngerjain laporannya?” tanyaku
“Ah, aku malas! Aku lagi galau nih.” Kata Syifa
“Galau kenapa Fa? tanyaku
“Aku putus sama Judika, gara-gara dia ketahuan selingkuh. Ihh!! Nyebelin banget sih jadi cowok! Benci banget deh aku sama dia!” kata Syifa sambil marah-marah
“Udahlah Fa. Mungkin bukan dia cowok yang pantas buat kamu. Kamu harus belajar buat ngelupain cowok yang gak punya perasaan kayak dia.” Kataku menenangkan Syifa
“Iya Ra. Makasih yah. Kamu udah ngasih saran ke aku.” Kata Syifa
“Iya. Sama-sama.” Jawabku


Bel pulangpun berbunyi. Aku segera merapikan meja dan bergegas ingin pulang. Tapi langkahku terhenti setelah ada yang menghalangi langkah kakiku. Sosok bertubuh tinggi, ganteng, dan dengan bau parfum yang tidak asing bagiku. Yah, Judika.

“Mau apa kamu?” tanyaku dengan tatapan yang sinis
“(sambil memegang tanganku) maafin aku Ra.” Kata Judika
“(sambil menarik tanganku) gak bakal!” jawabku singkat
“Plis Ra. Aku masih sayang banget sama kamu. Waktu kamu putusin aku, kamu sama sekali gak mau dengerin penjelasan dari aku. Semua itu gak seperti yang kamu lihat Ra. Pliis, percaya sama aku.” Kata Judika
“Oh yah? Jadi yang aku lihat waktu itu apa? Kamu lagi main drama? Atau mungkin, teater? Mesra-mesraan sama cewek lain sementara kamu masih pacarku waktu itu! Dimana sih, hatimu Ka? Pembelaan dirimu itu gak penting buatku! Aku gak bakalan pernah percaya!” kataku kesal dan sempat meneteskan air mata
“Yang kamu lihat waktu itu semuanya gak bener Ra. Sebenernya, dia itu mantanku. Dia gak pernah terima aku putusin. Dia terus aja ngejar-ngejar aku. Sampai waktu hari itu, kamu ngeliat aku yang dipeluk sama dia. Dia tiba-tiba aja meluk aku waktu kamu datang. Dia sengaja pengen ngancurin hubungan kita. Dan rencananya berhasil. Kita putus dengan mudahnya. Karena hasutan orang lain.” Kata Judika
“Tapi kenapa kamu pacaran sama Syifa Ka? Sama sahabatku sendiri? Terus kamu tega nyakitin perasaan dia. Kamu selingkuhin dia! Kamu itu cowok macam apa sih?!” kataku kesal
“Maafin aku Ra. Sebenernya, aku pacaran sama Syifa cuma buat ngilangin rasa sakit hatiku ke kamu. Aku Cuma pengen dapetin penggantimu. Tapi, kamu memang pemenangnya Ra. Kamu abadi dihatiku. Aku gak pernah bisa buat ngelupain kamu meskipun aku pacaran sama sahabat kamu sendiri. Aku sayang sama kamu Ra. Pliis Dira, maafin aku.” Kata Judika membuat hatiku luluh
“Aku juga minta maaf Ka. Waktu itu, aku gak pernah mau dengerin penjelasan kamu. Aku juga sebenernya masih sayang sama kamu.” Kataku
“Jadi kita balikan lagi yah. Kamu mau kan jadi pacarku lagi?” kata Judika
“(mengangguk)”

Akhirnya, aku pulang bersama dengan Judika. Senang sekali rasanya bisa balikan sama Judika. Aku sadar kalau aku memang sangat menyayanginya. Bagiku, Judika segalanya. Meskipun aku sempat mencoba untuk melupakannya, tapi rasa sayangku untuknya tetaplah abadi. Hingga hal yang tak pernah kuinginkanpun terjadi.

“Pagi Fa.” Sapaku pada sahabat baikku itu
“(menatapku sinis, lalu mengalihkan pandangannya tanpa menjawab sapaanku)”
“Kenapa? Ada yang salah yah sama aku? Aku udah buat kamu marah yah? Aku minta maaf yah Fa.” Kataku seraya mengulurkan tanganku untuk meminta maaf pada Syifa
“(menepis tanganku) kamu itu bener-bener cewek licik yah.” Katanya sambil tersenyum sinis
“Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti
“Pasti kamu kan, yang udah ngerayu Judika biar dia putus sama aku? Dasar cewek licik. Sahabat sendiri ditikung. Aku liat dengan mataku sendiri kemarin kamu pelukan sama Judika didepan kelas. Dasar perebut kamu Ra! Aku benci sama kamu!” kata Syifa yang sangat mengagetkanku
“Kamu salah paham Fa. Semuanya gak seperti yang kamu kira. Aku gak nikung kamu.” Kataku memberi penjelasan kepada Syifa
“Allaaahh! Alasan kamu tuh udah basi tau gak? Yang kenalin Judika kekamu itu aku Ra. Kenapa kamu malah kayak gini sama aku? Dimana sih hatimu sebagai seorang cewek?” kata Syifa diikuti dengan tangisan
“Maafin aku Fa. Aku yang gak pernah cerita kekamu. Sebenernya, Judika itu mantanku. Dulu, aku putusin dia karena aku salah paham sama dia. Dan aku gak mau dengerin penjelasan dari dia. Dia sangat terpukul, makanya dia pacarin kamu. Dia tau kalau kamu tuh sahabatku. Dia pikir, dengan dia pacarin kamu, rasa sayangnya ke aku tuh bakalan hilang. Tapi nyatanya gak. Dia masih tetap sayang sama aku. Makanya kemarin dia dateng kekelas buat minta maaf ke aku. Dan ngejelasin semuanya. Akhirnya, aku balikan lagi sama dia. Tapi kalau karena dia persahabatan kita jadi hancur, aku bakalan putusin dia lagi Fa.” Kataku sambil menangis
“(memelukku) maafin aku yah Ra. Aku udah salah paham. Gak usah Ra, kamu gak usah putusin Judika. Kamu cocok kok sama dia. Aku dukung kalian. Maafin aku yah.” Kata Syifa

Aku akhirnya baikan sama Syifa. Dan hubunganku dengan Judika, tetap berjalan lancar. Aku berharap, bisa selamanya bersama dengan orang-orang yang kusayangi.


=====*****=====
|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Itulah Cerpen Cinta DIA MILIKKU  Dari  Mimin Khoirum Widiawati

Profil Penulis
Nama : Mimin Khoirum Widiawati
TTL : Malang, 26 DEsember 1996
Sekolah : SMKN1 Bontang Kalimantan Timur
Alamat : Jalan RE MARTADINATA Loktuan, Bontang
Hobi : Menulis, Memasak, Tidur
Alamat Facebook : widicamutz@yahoo.co.id
Alamat Twitter : MiminKhoirum@yahoo.co.id


Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Tulisanku

Cerpen Cinta - 1my Boyfriend

1My Boyfriend                                     
Oleh:Eka Viva R

Pertemuan pertama ku dengan dia adalah di Kahuripan Nirwana.Saat itu aku mau berangkat les dengan salah satu sahabat ku.Tapi karena aku berangkat nya labih awal jadi aku memutuskan untuk jalan2 ke kahuripan.Aku berhenti sebentar karena capek menyetir dan aku menyisir rambut ku sejenak karena terlalu berantakan.Tiba2 ada 2 orang cowok yang menghampiri kami dan meminta nomor HP kami.Karena sahabat ku sudah mempunyai cowok akhirnya dia meminta nomor HP ku.

Sebenarnya aku gak mau ngasih nomor HP ku karna aku takut sama dia.Wajahnya yang membuatku takut apa lagi temen dia yang memakai tindik.Tapi aku berfikir lagi karena belum tentu dia jahat.Akhirnya aku memberikan nomerku ke dia.Setelah itu berterima kasih padaku.Dan kami segera berangkat les karena sudah telat.

Tak lama kemudian setelah aku sampai di tempat les,aku menerima SMS dari nomor yang tak aku kenal.Aku pun membuka sms itu dn membacanya.

1 pesan baru

Dari:089665026***
Sore

Replay
Ke:089665026***
Juga,
Ini siapa ya...?!

Dari :089665026***
Aku anak yang tadi minta nomor kamu di kahuripan

Kepada :089665026***
Iya siapa nama kamu?

Dari :089665026***
Aku Yusuf,
Kamu sendiri siapa?

Kepada :089665026***
Aku Yesinka

Dari :089665026***
Owh,kamu sekkolah dimana?

Kepada :089665026***
Aku sekolah di Spenido
Kalau kamu?

Dari :089665026***
Mana itu?
Aku sekolah di SMA PGRI 1 Sda

Kepada :089665026***
SMPN 1 skd,
Masak gak tau?

Dari :089665026***
Owh iya aku tau kok
Kamu kelas berapa?

Kepada :089665026***
Aku kelas 9,
Kamu...?!

Dari :089665026***
Aku kelas 11

Kepada :089665026***
Owh...

Sudah dulu ya aku mau les dulu nanti di lanjutin lagi

Dari :089665026***
Iya

Akhirnya aku melanjutkan les ku lagi dan setelah pulang les aku melanjutkan sms ku dengan dia lagi.Setelah 2 hari aku asyik mengobrol dengan dia dan saling tau sifat dari kita.Dia menyatakan perasaan nya kepada ku.Aku benar2 kaget dan gak percaya.Aku tak langsung menerimanya,karna aku takut dia menyakitiku.Aku meminta waktu ke dia untuk berfikir dan memutuskan.Dia memberiku waktu 1 hari untu berfikir dan memutuskan.

Esoknya,kami ketemuan di kahuripan dan aku pun memutuskan untuk menerimanya sebagai kekasihku.Sejak saat itu hari2 ku berubah karena kehadirannya di dalam kehidupan ku.Hari2 ku menjadi lebih cerah dan dia selalu membuatku tertawa bila aku berada di dekatnya.i kekasihku lama2 mereka menyetujui ku

Aku pun mengenalkannya pada sahabat2 ku.Memang pada awalnya mereka tak suka pada kekasih ku,tapi setetlah mereka tau sifat asli dari kekasihku lama2 mereka menyetujui hubungan ku dengan nya.Aku sangat senang karna kekasihku juga akrab banget sama sahabat2 ku.Dia tak pernah membeda-bedakan aku dengan sahabat2ku.

Aku beruntung bisa mendapatkan kekasih yang baik seperti dia.Aku akan selalu menjaga dan setia pada dia.Aku takkan membuatmu kecewa sayang.....

<....... sekian ........>

Cerpen  cinta ini ditulis oleh Eka Viva R 
email : yusufeka62@gmail.com

artikel terkait :
cerpen cinta - janji terakhir
cerpen cinta - aku pasti kembali
cerpen cinta - pergilah kau
cerpen cinta - waiting for you

Cerpen Cinta: SINAR MENTARI

Cerpen Cinta
Cerpen Cinta SINAR MENTARI
Oleh : Mimin Khoirum Widiawati

Cerpen Cinta SINAR MENTARI

         Aku menapaki jalan setapak yang basah dan becek karena baru saja telah turun hujan. Jalan ini lengang, tak ada satu orangpun yang lewat, kecuali aku. Aku takut, tapi aku berusaha untuk melawan rasa takutku, dan bergegas ingin sampai kerumah. Aku baru saja pulang dari kursus memasak. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tapi, aku belum juga sampai dirumah dikarenakan jalan yang becek, membuatku sulit untuk berjalan. Jalan ini licin, aku takut terpeleset. Dan tiba-tiba. . . . . . . .
BRAKKK!!!!!!! Aku terjatuh. Sakit memang, tapi aku harus bangun. Kondisi badanku yang memang kurang enak, membuatku tidak ingin melanjutkan perjalanan. Tapi aku harus pulang. Akhirnya, pukul 9.30 malam aku sampai dirumah.

Sesampainya dirumah. . . .

“Dari mana saja kamu nduk..?” tanya Ibuku
“Maaf Bu, aku tadi pulang dari kursus memasak, tapi karena jalanan licin dan becek aku tidak bisa cepat-cepat Bu. Aku takut jatuh, ini aja aku udah jatuh..” Jawabku
“Aduh Sinar, Ibu kan sudah bilang, kamu tidak usah lagi ikut kursus yang tidak penting itu nduk. Ibu bisa mengajari kamu memasak tanpa perlu kursus-kursus. Kondisi kamu tidak seperti teman-temanmu yang sehat nduk. Kamu perlu banyak istirahat. Nanti penyakitmu kambuh kalau kamu terlalu banyak aktivitas..” kata Ibu cemas.
“Tapi Bu. . . .”
“Tidak ada tapi-tapian nak. Ibu tidak ingin kamu jatuh sakit lagi. Ibu tidak ingin kehilangan kamu nduk. Untuk kali ini saja, turuti Ibu sayang.” Kata Ibu
“Aku gak bisa Bu. Maafin aku. Aku senang memasak, aku gak bisa tanpa memasak Bu. Aku ingin menjadi hebat seperti chef-chef yang terkenal yang sering muncul di TV itu Bu.” Kataku
“Jangan bodoh Sinar! Kamu ini sakit! Kamu tidak seperti teman-temanmu yang sehat. Kamu harusnya lebih memperhatikan kesehatanmu nak.” Kata Ibu
“Iya Bu. Aku tau kalau aku ini penyakitan. Tapi, apa aku gak boleh, mengejar cita-citaku Bu? Gak boleh? Saat aku memasak, aku merasa lebih senang dan lupa akan semua penyakit yang menimpaku Bu. Saat aku memasak, aku merasa sangat tenang. Aku mohon Bu, izinkan aku untuk tetap kursus memasak..” pintaku
“Baiklah Sinar jika itu kemauanmu. Ibu ingin yang terbaik untukmu nak. Tapi kamu harus ingat, kamu harus menjaga kesehatanmu, supaya penyakitmu tidak gampang kambuh..” kata Ibu
“Iya Bu. Makasih yah Bu (sambil memeluk Ibu)”
“Iya nduk. Sekarang kamu tidur yah, besok kan kamu harus sekolah.” Kata Ibu
“Baik Bu..” jawabku
Aku pun masuk kedalam kamar dan bersiap-siap untuk tidur. Yah, beginilah keadaanku. Tinggal di rumah yang sederhana dengan seorang Ibu yang begitu menyayangiku. Ayahku sudah lama telah tiada. Aku mempunyai seorang adik perempuan dan seorang kakak laki-laki. Namaku, Sinar Mentari. Yah, nama yang sangat indah untuk kumiliki. Aku senang dengan namaku itu. Sudah 2 tahun ini, aku divonis Dokter mengidap Leukimia. Dokter memprediksikan, bahwa umurku tidak akan lama lagi. Tapi buktinya, sampai saat ini aku masih bisa bertahan demi orang-orang yang kucintai. Demi Ibu, Kak Radit, dan Savira. Aku sangat menyayangi mereka. Aku sekarang sedang duduk di kelas X SMA. Aku sangat hobi sekali memasak. Dulu, Ibuku menentang hobiku itu, karena dia pikir dengan aku kursus memasak, aku akan menghabiskan banyak tenaga sehingga aku kecape’an, dan akhirnya penyakitku kambuh lagi. Tapi sekarang, Ibu sudah mendukung hobiku. Aku senaaaang sekali.

Keesokan harinya. . . . .

“Sinaaaaaaaaaaaaarrrr!!! Baaaaaannnggguuuunnnn!!! Teriak Kak Radit tepat di telingaku.
“(kaget) apaan sih Kak Radit. Aku masih ngantuk.” Jawabku bermalas-malasan
“Yasudah kalau kamu gak mau sekolah, tidur aja terus. Kakak udah mau berangkat nih.” Kata Kak Radit
“Emangnya ini jam berapa sih Kak?” tanyaku
“Jam setengah 7.” Kata Kak Radit sambil berlalu keluar dari kamarku
“Apaaaa!!! Aduh Kak Raaaaaaaaaddddiiiiiittt!! Kenapa gak bilang dari tadi kalau udah jam segini. Aku kan bisa telat! Kak Radiiiitt!!” kataku memanggil Kak Radit
“Yah salah sendiri. Udah yah, kakak berangkat dulu. Assalamualaikum Sinar..” kata Kak Radit sambil meninggalkanku, dia pergi dengan tawa bahagia karena adiknya telat.
“Walaikumsalam, eh Kak Radit! Aduuh. Tungguin dong, aku mandinya kilat deh.. Kak, Kak Radit..” kataku
“Gak mau ah. Nanti kakak telat lagi. Hahahahaha!!” kata Kak Radit
“IIIIHHHHH!! Kak Radit NYEBELIN!!” kataku
Akupun bergegas untuk mandi dan bersiap-siap kesekolah. Gara-gara telat, aku jadi lupa sarapan dan lupa mengambil uang saku. Alhasil, aku jalan bahkan sedikit berlari untuk mencapai sekolahku yang jaraknya kurang lebih 1km dari rumahku. Saat perjalanan kesekolah, tiba-tiba saja ada motor yang berhenti tepat disebelahku. Akupun menengok dan. . . . .
“Telat yah?” tanya Reyhan, teman sekolahku
“Oh kamu Rey. Aku kira siapa. Iya nih. Mana Kak Radit gak mau antarin aku lagi. Nyebelin!” jawabku
“Hahahaha! Habisnya kamu telat sih, jelaslah Kak Radit gak mau antarin kamu. Yaudah, bareng aku aja yuk..” ajak Rey
“Hmm. Iya deh.” Jawabku
Akupun naik keatas motor Reyhan. Reyhan adalah teman sekolahku. Tepatnya, teman sekelasku sekaligus sahabat baikku. Aku sangat suka padanya, karena dia baik. Bukan suka yang gimana-gimana loh. Hihihih. Reyhan ganteeeng banget. Banyak cewe-cewe disekolah yang naksir dia. Tapi, dia gak mau. Mungkin Reyhan trauma sama cewe kali yah. Tapi gak papa sih, Reyhan tetap sahabat baikku, seperti apapun dirinya. Aku sayang Reyhan.

Sesampainya disekolah. . . . . . .

“Sampai didepan gerbang yah aja tuan putri yang cantik.” Kata Reyhan
“Ih! Apaan sih Rey.? Hahahah! Iya deh. Makasih yah, pangeran yang buruk rupa.” Jawabku
“Eh! Sialan! Aku dikatain buruk rupa. Awas aja yah kamu, nanti gak aku tebengin lagi.” Kata Reyhan
“Hahahahh! Iya iya deh, sori Reyhan yang keren. Makasih yah.” Kataku
Akupun berlalu meninggalkan Reyhan yang akan memarkir motornya. Sesampainya dipintu kelas, aku melihat belum ada guru yang masuk. Syukurlah, aku tidak terlambat. Akupun lalu duduk ditempatku, dan mulai membuka-buka buku pelajaran yang akan kami pelajari hari ini. Yah, itulah kebiasaanku. Selalu membuka buku sebelum pelajarannya dimulai. Saat Reyhan masuk kedalam kelas, tepat sekali. Belpun berbunyi. Semua murid bergegas masuk kedalam kelas dan duduk ditempatnya masing-masing. Tak berapa lama kemudian, Bu Dian guru Bahasa Indonesia pun masuk. Tanpa banyak basa-basi, dia langsung mengucapkan salam dan pelajaranpun dimulai. Aku sangat suka pelajaran Bahasa Indonesia.
Tak berapa saat kemudian, bel pun berbunyi. Menandakan pergantian jam pelajaran. Tak berapa lama juga, Pak Heru guru Matematika pun masuk. Dia langsung menanyakan PR yang diberikannya minggu lalu. Kami pun langsung mengumpulkannya dan beliau pun langsung melanjutkan pelajarannya saat semua murid sudah mengumpulkan PR. Akhirnya, bel pun berbunyi. Ini menandakan istirahat telah tiba.

“Baiklah anak-anak, pelajarannya kita lanjutkan besok, sekarang sudah waktunya istirahat. Jangan lupa untuk mengerjakan tugas yang Bapak berikan. Bapak akhiri, Assalamualaikum.” Kata Pak Heru sambil meninggalkan kelasku
“Walaikumsalam” jawab murid-murid

Di kantin. . . . . . .

“Hay Sinar, lagi ngapain kamu?” sapa Reyhan tiba-tiba
“Aduh Reyhan, daritadi ngagetin terus sih. Aku lagi belajar resep buat cake nih. Hehehheh” jawabku
“Loh. Bukannya Ibu kamu melarang kamu buat ikut kursus memasak itu yah? Nanti kamu sakit lagi Sin. Kamu harus jaga kesehatan kamu. Ingat itu.” Kata Reyhan mengingatkan
“Iya Rey. Tapi itu dulu, sekarang Ibuku sudah mengizinkan untuk ikut kursus memasak itu. Aku senaaaang sekali. Ibuku akhirnya mengerti apa keinginanku.” Jawabku riang
“Wah.. Baguslah kalau begitu. Itu artinya, kamu bisa menyalurkan bakat memasakmu dan kamu bisa menjadi hebat seperti chef yang TV itu.” Kata Reyhan
“Hahahah!! Pikiranmu sama denganku Rey. Aku juga ingin menjadi seperti itu. Sangat ingin.” Kataku
“Tapi kamu harus ingat Sinar, kamu harus lebih menjaga kesehatanmu. Aku gak mau kamu sakit lagi. Kamu jangan terlalu lelah yah.” Kata Reyhan mengingatkan
“Iya Rey. Aku tau kok.” Kataku

Bel masukpun berbunyi. Semua murid-murid bergegas memasuki kelasnya masing-masing. Begitupun aku dan Reyhan. Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Akhirnya, bel yang ditunggu-tunggu pun berbunyi. Yah, bel yang menandakan waktu pulang sekolah. Semua murid lalu merapikan barang-barangnya dan memberi salam pada guru yang terakhir mengajar. Kami semua pun akhirnya pulang.

Perjalanan pulang. . . . . .

“Sinar, pulang sama siapa?” tanya Reyhan
“Gak tau nih Rey. Kayaknya Kak Radit gak jemput aku deh.” Jawabku
“Yaudah, bareng aku aja yuk, daripada kamu jalan kaki atau naik bis, ongkosnya lebih mahal, lagian pasti kamu capek juga kalau jalan kaki. Aku tau kalau kamu gak bawa uang saku kan?” kata Reyhan
“Heheh!! Iya. Yaudah deh, aku bareng kamu aja (sambil naik kemotornya Reyhan)”
“Tapi, kita makan dulu yah.” Kata Reyhan
“Terserah kamu aja Rey. Tapi traktir yah.” Jawabku
“Sip oke bos..” jawab Reyhan

Aku dan Reyhan pun tiba disebuah tempat makan. Reyhan memesankan aku makanan dan minuman. Dia juga memesan sama seperti makanan dan minumanku. Kami berdua pun makan. Setelah kenyang, aku dan Reyhan pulang. Reyhan mengantarkanku sampai kerumahku. Setibanya dirumahku, Reyhan tidak mau mampir. Katanya, ada les yang harus dia ikuti dan tidak boleh terlambat. Akupun lalu mengucapkan terimakasih padanya, lalu aku masuk kedalam rumahku. Reyhan pun pulang. Saat aku memasuki rumahku, Ibu sudah menungguku di meja makan. Ibu lalu mengajakku untuk makan siang bersama.

“Sinar, kamu sudah pulang nduk. Makan dulu yah nak, ganti baju kamu dulu.” Kata Ibu
“Aduh Bu, maaf yah. Tapi aku tadi sudah makan sama Reyhan Bu. Tadi aku pulang sama dia, jadi sekalian diajak makan sama dia.” Jawabku
“Yasudah, kamu ganti baju aja dulu. Jangan lupa shalat ya nduk.” Kata Ibu
“Oke deh Bu, Sinar kekamar dulu yah Bu.” Jawabku
Sesampainya dikamar, aku langsung ganti baju. Setelah ganti baju, aku bergegas mengambil air wudu untuk melaksanakan shalat Dhuhur. Beberapa saat kemudian, akupun selesai shalat. Aku lalu merebahkan tubuhku diatas kasur dan aku mulai menulis di buku harianku.

Ada getaran yang beda, ketika sepasang mata yang indah itu saling menatap. Ada sesuatu, yang sangat spesial dan sangat berarti maknanya bagiku. Aku ingin, jika sepasang mata yang indah itu menjadi milikku. Aku ingin memilikinya. Ingin sekali. Tuhan, apakah ini cinta? Sampai saat ini aku masih belum mengerti. Ketika aku berada dalam sebuah hutan yang gelap dan tidak ada siapapun disana, aku bisa melihat sebuah cahaya yang terang menyala. Yah, cahaya cinta dari seseorang yang memiliki sepasang mata yang indah.

Sinar

Setelah selesai menulis dibuku harianku, tanpa sadar akupun terlelap. Sampai akhirnya, adzan berkumandang. Akupun terbangun dari tidur siangku. Aku lalu mengambil air wudu dan melaksanakan shalat Ashar. Setelah selesai shalat, aku berjalan keluar kamar. Aku duduk dihalaman belakang rumahku. Aku duduk, dan terus duduk disana. Aku merenungi nasibku. Sampai kapankah aku akan bertahan hidup? Akankah aku sembuh? Ya Tuhan. Pikiranku kacau sekarang. Tanpa aku sadari, air mataku pun mengalir. Aku dengan cepat menghapusnya, sambil berkata “Tidak Sinar! Kamu orang yang kuat, kamu pasti bisa Sinar! Jangan putus asa!”

Beberapa hari kemudian. . . . .

“Oh Tuhan, sampai kapankah aku akan bertahan?” Sudah seminggu ini pikiranku diganggu oleh pertanyaan itu. Bahkan aku sampai lupa untuk kursus memasak karena aku merasa telah hancur. Aku bukanlah Sinar yang biasanya. Kali ini aku lebih rapuh dan lebih mudah putus asa. Mengapa aku seperti ini? Apakah Tuhan akan memanggilku sebentar lagi? Entahlah, yang jelas sekarang aku tidak berminat untuk melakukan apa-apa. Aku hanya berusaha untuk memperbanyak amal baikku dan terus melaksanakan perintah-perintahNya. Mungkin ini adalah sebuah firasat, kalau Tuhan akan memanggilku sebentar lagi.
Hari-hari belakangan ini selalu aku lewati dengan murung. Tak seceria biasanya. Hingga pada suatu sore, aku bertemu dengan Rey di sebuah taman. Aku kebetulan jalan-jalan disana sendirian untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang selama ini menggangguku. Dan, Rey pun menyapaku.
“Sendirian aja Sin?” tanya Reyhan
“Iya Rey. Kamu juga sendirian?” tanyaku balik
“Iya, kamu ngapain disini? Akhir-akhir ini, aku sering melihatmu murung dan berdiam diri. Gak seperti Sinar yang biasanya. Sinar yang periang dan lucu. Ada apa?” tanya Reyhan khawatir

Akupun duduk di sebuah bangku taman, dan mulai bercerita apa yang selama ini aku alami pada Reyhan.

“Rey, kamu gak akan pernah ngerti apa yang selama ini aku rasain.” Kataku, memulai pembicaraan
“Apa maksudmu Sin?” tanya Reyhan
“Aku mencoba buat menjadi seorang yang periang dan lucu dihadapan semua orang, tapi itu hanya kebohongan yang besar. Aku rapuh Rey, aku pecundang, aku hancur!” kataku seraya menitikkan air mata
“(sambil memelukku yang sedang menangis) kata siapa? Kamu gadis yang kuat Sinar. Kamu itu adalah inspirasi bagi penderita leukimia yang lain. Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Apa yang membuat kamu berfikir seperti itu setelah kamu bisa melupakan penyakitmu dan mencoba menjadi periang didepan orang-orang yang mengkhawatirkanmu? Kamu itu gadis yang luar biasa! Kamu tau itu Sinar? Kamu tau kenapa kamu menjadi gadis yang luar biasa? Karena kamu masih bisa tersenyum disaat kamu sedang susah, kamu masih bisa tertawa, dan kamu juga bisa membuat orang lain tertawa. Kamu luar biasa!” kata Reyhan memberiku semangat
“(tersenyum) makasih Rey, kamu udah ngajarin aku hal baru. Kamu baik banget. Sekarang, aku bakalan coba buat jadi Sinar yang dulu lagi. Makasih yah Rey. (memeluk Reyhan)”
“Iya Sinar, oiya ada satu hal lagi yang pengen aku sampein ke kamu.” Kata Reyhan membuatku penasaran
“Apa?” tanyaku
“Selama ini, ada sebuah bintang yang bersinar terang dihatiku. Aku ingin memiliki bintang itu. Ingin sekali. Bintang itu bernama Sinar.” Kata Reyhan
“Maksudmu?” tanyaku lagi
“Aku mencintai kamu Sinar. Aku sayang sama kamu. Kamu mau kan jadi pacarku?” kata Reyhan membuat jantungku serasa berhenti berdetak

Tuhan. Hatiku serasa melayang mendengar perkataan Reyhan. Aku juga mencintainya, sangat sangat mencintainya. Terimakasih Tuhan, Engkau mengirimkanku seorang malaikat yang akan terus menuntunku kearah yang benar. Akupun mengiyakan pertanyaan Reyhan, yang berarti aku mau menjadi kekasihnya. Reyhan ternyata sama denganku, dia juga sangat senang mendengar jawabanku. Terimakasih Tuhan.

Beberapa bulan kemudian . . . . .

Sudah 2 bulan aku pacaran dengan Reyhan. Hubungan kami sangat akur. Aku semakin lama semakin mencintainya. Hingga bencana itu datang. Bencana yang selama ini aku takutkan. Yah, leukimia. Penyakit itu semakin ganas. Dia tidak mau lagi bertoleransi dengan tubuhku. Hingga akhirnya, aku harus dirawat dirumah sakit. Sedih memang, aku tidak bisa melihat Reyhan yang selalu menghiburku, kemana dia? Mengapa dia tidak datang menengokku. Ya Tuhan, ada apa dengan Reyhan?
Sudah seminggu aku dirawat dirumah sakit, tapi Reyhan tidak juga menengokku. Apakah Reyhan sudah mulai bosan dengan wanita penyakitan seperti aku? Ah, itu tidak mungkin! Reyhan sangatlah menyayangiku. Sampai suatu hari, penyakitku semakin parah. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk berkata-kata. Dan hari itu, Reyhan datang dengan membawa sebuah cake kesukaanku. Ya Tuhan, Reyhan sengaja membelikan cake itu untukku? Senangnya..

“Gimana? Udah enakan?” tanya Reyhan
“(menggeleng) pe-nya-kit-ku se-ma-kin pa-rah Rey. A-ku ti-dak bi-sa ba-nyak ber-bi-ca-ra.” Jawabku dengan terbata-bata
“(menangis sambil memelukku) maafkan aku Sinar, aku tidak pernah ada disaat kamu membutuhkanku. Aku benar-benar tidak berguna buatmu Sinar. Maafin aku. Ini, aku bawakan cake kesukaanmu. Selama ini, aku kursus masak sepertimu, agar aku bisa membuatkan kamu sesuatu. Seperti cake ini. Gimana, kamu suka gak?” tanya Reyhan sambil terus menangis
“(mengangguk) i-ya, gak pa-pa. Rey-han, a-ku sa-yang ka. . . . . .
“Sinar, Sinar!! Bangun Sinar! Kamu kenapa? Jangan tinggalin aku Sinar!!! Sinaaaaaarrrrrr!!!” teriak Reyhan

Sinarpun meninggal. Dia menitipkan secarik kertas untuk Reyhan. Yang isinya. . .

To : Reyhan sayang
Ketika pemilik sepasang mata yang indah itu menjadi milikku, aku sangat senang. Bahkan, sulit rasanya untuk aku percaya kalau aku adalah pacarmu. Aku menyayangimu Rey. Meskipun aku udah gak ada disisi mu, tapi percayalah kalau aku akan selalu ada dihatimu. Aku akan selalu hidup disana, menemanimu sampai kapanpun. Aku sayang kamu Rey.
Sinar

Reyhanpun menangis. Dia sadar kalau dia benar-benar mencintai Sinar. Sosok wanita yang membuat hidupnya menjadi lebih berwarna. Yang selalu memberi tawa dihidupnya. Dialah Sinar, Sinar Mentari yang sangat dia sayangi. Yang untuk hari ini dan seterusnya, akan hidup dihati Reyhan meskipun sosoknya sudah tidak bisa lagi dilihat..


=====*****=====
|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Itulah Cerpen Cinta SINAR MENTARI  Dari  Mimin Khoirum Widiawati

Profil Penulis
Nama : Mimin Khoirum Widiawati
TTL : Malang, 26 DEsember 1996
Sekolah : SMKN1 Bontang Kalimantan Timur
Alamat : Jalan RE MARTADINATA Loktuan, Bontang
Hobi : Menulis, Memasak, Tidur
Alamat Facebook : widicamutz@yahoo.co.id
Alamat Twitter : MiminKhoirum@yahoo.co.id


Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Tulisanku

Cerpen Cinta: MALAIKAT UNTUK TASYA

Cerpen Cinta
Cerpen Cinta MALAIKAT UNTUK TASYA
Oleh : Mimin Khoirum Widiawati

Cerpen Cinta MALAIKAT UNTUK TASYA
      Oke , kenalin . Nama gue Natasya Five Nindry Dewi . Panggil aja gue Tasya .Gue itu anak ke lima dari 5 bersaudara , yaa anak bungsu gitu deeh .Gue tuh manja abis , dan gue gak suka banget sama warna merah .Gue gak pernah akur sama kakak-kakak gue .Gue benci mereka semua . Gue gak suka aturan yang mereka buat untuk gue . Kalau menurut gue , itu gak bakalan ngerubah sifat gue yang urak-urakan ini .Jadi , gue milih jalanin aja hidup gue tanpa mikirin mereka semua .Gue gak punya ortu lagi . Mereka udah tenang di surga sana .
Semenjak kematian kedua ortu gue , gue jadi kayak gini . Gue jadi anak yang berandalan . Gue gak terima , kalau gue mesti hidup sama kakak yang gak pernah gue suka . Jadi , ginilah caranya gue memberontak dari kehidupan gue yang gak pernah bersahabat sama gue .
Kakak gue itu , sukanya ngomel , marah gak jelas , nyuruh ini , nyuruh itu , iiihh ...!! emang nya dia kira gue pembantu apa ??!!
Kalau gak mau cepet tua karena ngadapin gue , mendingan kerjain sendiri aja deeh , tuh semua. Paling males yah, kalau disuruh bangun pagi. Ampuunnnn. Gue gak bisa banget bangun pagi-pagi tau gak siiih????!!!
Tapi, ada satu hal yang bikin gue sampai saat ini masih mau sekolah. Yaitu, Mila. Sahabat gue. Tanpa dia, gue bukan siapa-siapa. Dia yang udah ngajarin gue arti sebuah kehidupan.
Bagi gue, Mila sangat berarti.
Gue sayang banget sama sahabat gue itu..

Suatu pagi di sekolah. . . . .

Uhh .. Sial banget sih gue hari ini ..!! Dasar kakak gak tau terima kasih !
Udah bagus-bagus yaa , gue mau di suruh nyuci piring , eh malah gak di kasih uang jajan . Awas loe nanti kalau gue pulang , gue pecahin tuh semua piring !!
Uhhhhhh !!! ( sambil menendang sebuah kaleng )
Bruukk ... kaleng itu mengenai kepala seorang guru BP yang sangar nya minta ampun .
“ Tasya !! apa yang kamu lakukan ?” tanya Bu Indah sambil memelototi Tasya .
“Nendang kaleng Bu,”
“Kamu tahu tidak , kaleng itu kena kepala Ibu , apa kamu mau , masuk ruang BP ?”
“Udah laa Bu, gak benjol juga . Manja banget sih Ibu , kena kaleng gitu aja udah mau masukkan saya ke ruang BP.” ( sambil berlalu meninggalkan Bu Indah yang sedang ngomel-ngomel )
“Tasyaaaaaaaaaaaaa !!!!!!! Ibu kurangi point kamu , Ibu kurangi 25 . awas kamu kalau ketemu Ibu lagi , gak akan Ibu biarin pergi kamu ! Dasar murid kurang ajar !!!!” ( sambil memegangi jidat nya yang rada benjol )

Sesaat kemudian ....
“Haaii-haaii” sapa Tasya pada sahabat nya .
“Haii juga Sya” kata sahabat nya , Mila .
“Lagi mikirin apa’an sii ?” tanya Tasya penasaran .
“Ini nii , katanya mau ada murid baru di kelas IX B . Katanya sih ganteng , cute , pokoknya perfect abis deh .” kata Mila , dengan nada yg di lebay-lebay’in .

Tasya mempunyai sahabat yang sangat mengerti dia . Namanya Mila .
Mila senasib dengan Tasya , sama-sama sudah gak punya orang tua lagi . makanya mereka berdua serasa klop banget giitu .

“Alaah . Seganteng apa sih ? Paling juga di bawahnya kakak Nicky . “ kata Tasya sambil menyebut nama artis idolanya , yaitu Nicky XOIX .
“Huuuh .. Nickyyy aja terus , gak bakalan juga loe ketemu dia Sya , jangan mimpi deh hahahahah .” kata Mila menertawai Tasya .
“Awas lo yaa La, kalau gue ketemu , gue jitak lo .” Hmm ..
“Ke kantin yuk La .” kata Tasya .
“Ayo , laper gue .” kata Mila.

Beberapa menit kemudian , Tasya dan Mila tiba di kantin sekolah yang kebetulan jauh dari kelas mereka , jadi mereka berdua bisa bolos tanpa sepengetahuan guru .
Di kantin , Tasya makan banyak sekali , karena dia tidak sarapan pagi tadi .
Mila pun demikian .

Tiba-tiba , datang sesosok pria yang tampan dan gagah duduk di meja sebelah Tasya dan Mila makan .

“Syaa .. Ganteng banget cowo itu .” kata Mila sambil menyikut-nyikut tangan Tasya .
“Apaan sih loe La ? Gue lagi makan nih , jangan di ganggu .” kata Tasya .
“Itu Sya , liat dulu .” kata Mila .
“Ah , mendingan gue makan , udah jangan ganggu gue .” kata Tasya .

Tiba-tiba cowo itu menyapa Mila .
“Haii Mila ...” kata Reno , nama cowo itu .
“Haaa haa haa haaiii ju ju ju gaa ..” kata Mila dengan gagap . ( Mila kalau ngobrol sama cowo cakep pasti jadi gagap )
“Rileks aja lagi ngomong sama gue , nama gue Reno . Gue anak baru , gue tau loe dari anak-anak yang pada ngomongin loe , katanya loe tukang bolos yaa ?” kata Reno .
“Salam kenal yaa , Reno . Hmm , gue sebenernya gak mau bolos , tapi temen gue yang satu ini nii , yang ngajakin gue bolos mulu’ , yaa . jadi kebiasaan deh . heheheh ..” kata Mila sambil malu-malu .
“ouh . jadi si Tasya ini yang ngajarin lo bolos-bolos gitu yaa ?” kata Reno sambil melirik Tasya yang lagi makan bakso .
“Apa lo ?! Lirik-lirik gue ?!! Mau gue makan lo ?” kata Tasya sinis .
“Dasar cewe aneh . Udah lah La , kita ngobrol berdua aja . Gak usah ngurusin temen lo yang gak tau malu itu .” kata Reno .
“apa kata lo ?!!!!!! Belum tau gue lo yaa . Gue gibeng terbang lo .!” kata Tasya sedikit ngamuk .
“Oiya La , lo kelas berapa ?” tanya Reno pada Mila dan dia tidak menghiraukan Tasya yang marah-marah .
“Kelas 3 Ren , lo kelas berapa ?” tanya Mila balik .
“Sama , waah .. Jangan-jangan kita satu kelas , gue kelas IX B .. lo ?” tanya Reno lagi pada Mila .
“Gue kelas IX C Ren . yaah , gak sekelas deh .” Kata Mila .

Mereka berdua pun asyik ngobrol dan tidak menghiraukan Tasya . Akhirnya Tasya marah dan dia meninggalkan Reno dan Mila berdua di kantin .

Sesaat kemudian ....
“Tasya , kamu kenapa ?” tanya salah seorang siswa bernama Joni yang ternyata menyukai Tasya , dia adalah anak yang pintar dan sopan .
“Gak usah tanya-tanya !!!!! Lo kira lo siapa berani-beraninya tegur gue ?!!” kata Tasya marah .
“Bukan gitu Sya , aku cuma pengen tau , aku sedih liat kamu sedih terus .” kata Joni .
“Lo gak usah sok perhatian deh sama gue . Gue gak butuh perhatian dari lo . !!! Pergi sana lo .!” kata Tasya.

Akhirnya, Joni pun pergi meninggalkan Tasya yang masih saja marah-marah.

Tiba-tiba....
“Sya, ngambek yaa ????” sapa Mila yang merasa bersalah.
“Gak.” dengan ketusnya Tasya menjawab.
“Yaaaah Sya. Gitu aja ngambek. Jangan ngambek dong Sya. Pliiiisss.” kata Mila
“Apaan sih lo ?? Pergi sana sama sii Reno itu. Iiuuuh” kata Tasya
“Hmmmm. Cemburu yaaah ?? Lo suka yah, sama Reno ? Ciiee.” kata Mila
“Iihh. Apaan sih. Gak lagi, jangan ngaco yah lo La.” kata Tasya
“Makanya, maafin gue yah Sya, pliiiiiiiiiiiissssss banget” kata Mila
“Yaudah, gue maafin lo, tapi ada syaratnya. Lo harus nraktir gue makan bakso selama 1 bulan. Gimana ?? Kalau gak mau juga gak papa, tapi gue bakalan ngambek terus loooh.” kata Tasya
“Okee okee Sya, biar loe gak ngambek gue bakalan nraktir lo makan bakso selama 1 bulan. Okee.”kata Mila

Akhirnya mereka berdua pun berbaikan lagi. Sebenernya, dalam hati Tasya, dia penasaran dengan Reno. Tapi, dia malu sama Mila. Malu kalau Mila sampai tau kalau Tasya suka sama Reno.

Keesokan harinya....

“Tassyyyyyaaaaaaaaaaa. Bangun, lo gak sekolah apa ? Udah jam berapa nih ? Ya ampuun Tasya, banguuuuuuuuunnnn” teriak Kak Ita, kakak keempat Tasya.
“Apaan sih kak ? Gue masih ngantuk. Nanti aja banguninnya kenapa sih ? Udah sana pergi ahh.” Jawab Tasya dengan nada bermalas malasan untuk menjawab.
“Ya ampun Tasya, liat nih. Udah jam 07.00, lo nanti dimarain Bu Indah, mau ?” kata Kak Ita.
“Iya iya Kak, gue bangun. Ahh. Nyebelin banget sih lo kak.”kata Tasya.
“Tasya, kenapa ngomong kayak gitu sama kakak kamu ? Hah ? Mau belajar jadi gak sopan yah ?” kata Kak Sam, kakak Ketiga Tasya.
“Ya ampun. Iya iya, maafin gue kak. Gue telat nih, mau cepet cepet. Jangan diomelin mulu’.”kata Tasya


Keluarga Tasya, adalah keluarga besar. Dimulai dari kakak pertama dan keduanya yang kembar bernama, Raditya One Geyandra Putra (Adit) dan Reyhantya Two Geyandra Putra (Han) lalu kakak ketiganya yang bernama, Samantha Threehadi Ningsih (Sam), lalu kakak keempatnya yang bernama, Christhita Fouridina Kumalasari (Ita), dan yang terakhir adalah Natasya Five Nindry Dewi (Tasya).
Sedangkan Mila, sahabat Tasya memiliki keluarga besar juga, yaitu kakak pertamanya yang bernama, Sulung Putra Gandhi (Putra), lalu kakak keduanya yang bernama, Indah Dwi ayu (Indah), kakak ketiganya yang bernama, Trianha Setianingrum (Anha), lalu anak keempat yaitu Milanindia Fourina Khoirum (Mila), lalu adiknya anak kelima yang bernama, Ivia Fivewidia Nisa (Ivi), dan anak keenam yang bernama, Jefry Bagus Sixgandhi (Jefry).

Tasya emang suka banget telat bangun. Sampai kakak-kakaknya nyerah buat ngebangunin dia yang susaaaaaaaahhhh banget buat dibangunin.

Sesaat kemudian...

Bukk.!!!! Suara kaleng yang ditendang Tasya lagi-lagi mendarat dikepala Bu Indah.
“Hmm Hmm Hmm Hmm... Lagi-lagi Tasya, dasar anak badung” kata Bu Indah dalam hati.
“Maaf yah Bu, saya gak sengaja...” kata Tasya meminta maaf.
“Yasudah, sana pergi ke kelas.” kata Bu Indah ramah tak seperti biasanya.
“Kok Ibu gak marah sih? Ibu cape’ yah, ngadapin saya? Maaf deh, kalau gitu Bu, saya janji gak ngulangin lagi..” kata Tasya dengan muka yang dimelas-melasin.
“Gak kok. Ibu gak cape’ ngadapin kamu. Cuma Ibu lagi kurang enak badan aja. Ibu lagi males marah-marah. Apalagi sama kamu yang badungnya minta ampun. Yang ada mlah penyakit Ibu gak sembuh-sembuh lagi.. Sudah sana ke kelas.”kata Bu Indah.
“Yah Ibu, gak seru nih. Gak pake’ marah-marah. Yaudah deh, saya ke kelas yah Bu. Byee Ibu cantiik. :*” kata Tasya pada Bu Indah sambil berjalan meninggalkan Bu Indah.


Sesampainya di kelas...
“La, ngapain tuh anak ada dikelas kita..?” tanya Tasya kepada Mila yang heran melihat Reno ada didalam kelasnya dan menduduki bangkunya.
“Lo gak tau yah Sya? Dia kan udah dipindahin ke kelas kita..” kata Mila.
“Ohh. Terus, ngapain dia duduk di bangku gue??” tanya Tasya lagi.
“Hehehehh.. Gak tau tuh Reno. Dia bilang pengen duduk sebangku gue..” kata Mila.
“Iddiiiih. Enak bener hidup dia kalau kayak gitu. Dia pikir dia siapa.?!!!!! Anak baru aja belagu. Itu kan bangku gue, gue yang pertama kali nempatin. Dia dengan sekali datang langsung main ambil bangku gue. Awas aja yah..!!!!!!” kata Tasya sambil ngomel panjang lebar lalu mendatangi Reno..
“Sabar Sya, sabar. Nanti juga pindah sendiri dia. Dia bercanda aja kok mungkin..” kata Mila menenangkan Tasya.
“Allaaaaaah..!!! Dia kalau gak dimaki-maki gak bakalan pindah..!” kata Tasya sambil mendatangi Reno.


Lalu...
Braaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk!!!! Suara meja yang dipukul Tasya. Tasya benar-benar marah kali ini.
“Heeh cewek bego’, ngapain lo mukul meja gue.?” Kata Reno sedikit marah juga.
“Heeh cowok sableng, lo yang ngapain, hah? Ini meja gue, bukan meja lo.!” Kata Tasya.
“Ohh yaa? Ini meja lo? Itu dulu, sekarang ini jadi meja gue.!!” Kata Reno.
“Enak aja yah lo.!! Udah jago lo?! Haah? Jangan mentang mentang lo cowok yah, lo pikir gue takut sama lo!!” kata Tasya.

Reno pun terdiam. Bukan karena dia takut pada Tasya. Tapi karena dia teringat pada perkataan Mila yang memberitahunya bahwa Tasya seperti ini karena dia kesepian ditinggal oleh kedua orang tuanya.

“Gue minta maaf Sya..” kata Reno tulus.
“Gue gak bakal yah, maafin lo!!! Ingat itu! Dasaar!! Gue benci sama lo Ren..! Gue benci sama semuanya.!!! Gue benci..!!!! Gak pernah ada orang yang bisa ngerti’in gue. Gue benci!!” kata Tasya dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu dia berlari meninggalkan kelas.
“Tasyaaaaa.!!” Teriak Reno memanggil Tasya.


Laluu...

“Gue benci! Gue benci! Gue benci!!!!!!!!!” Teriak Tasya. Dia sekarang sedang berada di gedung belakang sekolah. Dia menangis sendirian disana

Dan tiba-tiba Reno datang menghampiri Tasya. Dia memang merasa bersalah pada Tasya. Dia ingin meminta maaf. Lalu. . . . .

“Tasya.” Panggil Reno
“Apa? Gak bosen-bosennya yah lo gangguin gue.” Jawab Tasya sambil menangis
“Gue minta maaf.” Kata Reno
“Mungkin maaf itu gak akan pernah cukup Ren. Lo tau, selama gue hidup, gak pernah ada orang yang suka sama gue. Bahkan kakak-kakak gue sendiri, gak pernah ada yang suka sama gue. Gue benci kayak gini Ren. Ditambah lagi sama sikap lo yang bikin gue tambah muak hidup didunia.” Jawab Tasya sambil menangis
“Gue gak bermaksud gitu Sya. Gue pikir, lo cewek yang asik. Gue coba deketin lo dengan cara kayak gitu. Gue gitu karena gue pengen deket sama lo Sya. Gak semua orang kok gak suka sama lo. Gue suka sama lo Sya. Suka banget, dari pertama gue liat lo. Lo mau gak, jadi pacar gue?” kata Reno yang mengagetkanku
“(kaget) gue gak salah denger?” jawabku
“(menggeleng) gak kok, lo mau jadi pacar gue?” kata Reno mengulangi pertanyaannya
“Sebenernya, gue juga suka sama lo Ren.” Jawab Tasya
“Jadi, lo mau gak?” tanya Reno
“(mengangguk) iya.” Jawab Tasya

Ternyata masih ada orang yang menyayangi Tasya. Betapa senangnya dia. Dia sadar, kalau Reno sebenarnya adalah orang yang baik. Terimakasih Tuhan, Engkau telah menurunkan seorang malaikat untukku.

=====*****=====

|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Itulah Cerpen Cinta MALAIKAT UNTUK TASYA  Dari  Mimin Khoirum Widiawati

Profil Penulis

Nama : Mimin Khoirum Widiawati
TTL : Malang, 26 DEsember 1996
Sekolah : SMKN1 Bontang Kalimantan Timur
Alamat : Jalan RE MARTADINATA Loktuan, Bontang
Hobi : Menulis, Memasak, Tidur
Alamat Facebook : widicamutz@yahoo.co.id
Alamat Twitter : MiminKhoirum@yahoo.co.id


Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Tulisanku

Cerpen Cinta Karya Silvia

Cerpen Cinta
Cerpen Cinta
Oleh : Silvia

Cerpen Cinta Karya Silvia
      Melamun bersama lagu Sheila On7 “ Buat Aku tersenyum” membuat aku terhanyut dalam suasana. Lamunan yang melayang jauh entah kemana, yang hanya tertuju pada satu jiwa yang telah berlabuh dihatiku. Jiwa yang akan menemaniku esok saat sendiri sepi seperti malam ini.
“Kring......Kring......Kring”
        Mendadak semua lamunan itu sirna dengan suara HP diatas kasurku. Suara hp yang memanggil-manggilku untuk segera mengangkat panggilan masuk. Telpon dari sebuah nomor asing yang tak aku kenal sebelumnya, ku hiraukan panggilan itu hingga berkali-kali, tapi tak kunjung berhenti juga suara hp-ku, hingga pikiranku berubah untuk mengangkat telponnya. Mungkin saja memang begitu penting.
“ hallo............”
        Serentak aku kaget mendengar suaranya, suara yang tak asing lagi di telingaku. Suara yang lama sekali tidak aku dengar semenjak aku memiliki kekasih baru yang akan menjadi suamiku. Hanya terdiam saat aku mendengarnya.
“hallo........” dengan suara gugup aku menjawab sapaannya
“Dina?” terdengar lagi suaranya memanggilku namaku
“Iya, ngapain telpon...?” jawabku dengan nada tinggi
“Kok cetus banget sich ngomongnya, emang kamu tahu siapa aku?” ngajak membuka pembicaraan.
“Udah dech gak perlu nyebutin nama, aku tahu kok siapa kamu. Ngapain telpon pakai nomer baru juga.!” Suaraku semakin tinggi
“pengen aja. Kangen sama kamu Din. Tau gak nomerku hilang, tapi cuma nomer kamu yang ada di ingatanku. Makanya aku sengaja telpon kamu, tapi malah kamunya jutek banget sich sekarang”. Mulai dech Adit ngrayu mencoba buat aku mau ngomong.
       Setelah sekian lama menghilang tanpa kabar, tiba-tiba ingin lagi datang. Dengan hati yang tak karu-karuan aku tetap dengan sabar mendengarkan omongannya. Sekaligus aku ungkapkan semua apa yang aku rasakan sebelumnya. Berharap unek-unek yang kupendam terbongkar semua dan aku benar-benar telah menghapus bayangnya dari dalam diriku. Sejenak aku terdiam, dan Adit terus berbicara tanpa henti.
“Din, kamu beneran mau nikah ya? Kok tega banget sich kamu sama aku. Aku tuch sayang banget sama kamu tapi kamunya gitu dengan mudah mencari yang lain selama aku pergi. Padahal aku jauh-jauh kesini ya cuma buat kamu nantinya kalo aku pulang”. Dengan nada yang sedikit kecewa adit mengungkapkan hal itu.
“Kamu gak usah sok-sokan pasang tampang kasihan gitu dech, aku juga dah tau kok kalo kamu juga distu udah punya tunangan, dan besok kamu pulang juga buat ngelangsungin acara pernikahannya. Jadi gak usah dech ngomongin hubungan kita lagi. Toh emang dari dulu kita juga gak pernah punya hubungan apa-apa kan?, pacaran juga belum pernah, sekedar teman juga gak.” Aku mencoba tuk menahan emosiku yang telah lama ada dalam hatiku.
Adit mengambil bicara untuk meluruskan apa yang aku sampaikan itu gak benar.
“Aku tuch kaget tau dengar kamu mau nikah, makanya tanpa berpikir panjang aku mutusin buat ngelamar cewek yang selama aku ada disini selalu disampingnku.”
“Itulah yang aku gak suka dari kamu, katanya bilang sayang sama aku. Tapi apa? Cuma omong kosong yang gak ada realitanya, kalo orang beneran sayang tuch gak mungkin pergi gitu aja tanpa kabar. Asal kamu tahu aku udah gak ingat kamu lagi kalo kamu gak telpon aku sekarang ini.” semakin panjang pula aku ngomongnya.
“Din jahat banget sich kamu” adit kembali merengek.
         “Kamu yang jahat tahu. Dimana aja kamu selama ini? Gak pernah nyadar apa jadi orang, emang dulu aku akui kalo aku begitu sayang sama kamu, saat kita jalan aku selalu berharap ada kata-kata yang akan kamu ungkapin buat aku. Tapi apa? Cuma angin doank.” Semakin kesal aku ngomong dengannya, tapi masih aku teruskan perbincangan itu.
          “Din kalo aku masih sayang sama kamu, kamu mau gak jadi isteri aku?” Adit melontarkan kata-kata yang gak aku tahu maksudnya. Cuma gombalan semata apa benar-benar Adit masih mengharapkanku.
“Gak” jawabku singkat.
          “Kenapa Din? Kamu beneran mau nikah ya? Kalo kamu mau nerima aku, hari ini juga aku bakalan pulang, dan aku akan menemui kedua orangtuamu. Aku akan batalin pernikahanku dengan calonku.” Adit terus berusaha tuk meyakinkanku.
     “Terlambat tahu!!!!!!kamu jadi cowok tuch gak punya perasaan banget sich, dimana otakmu. Kamu udah punya tungangan. Dan aku juga begitu. Semua udah aku persiapkan, termasuk hati aku. Aku udah nganggap kalo kita gak pernah kenal. Jadi mulai sekarang aku harap kamu lupakan aku, dan hiduplah dengan calon isterimu itu tanpa bayanganku”.
      Aku mencoba untuk mengambil bicara agar berakhir pembicaraan kita berdua, tapi hatiku masih ingin ngomong dengan lebih jelas dan sopan kepada Adit. Berharap agar Adit bisa terima dengan keadaan yang sesungguhnya, dan aku juga bisa menjalani hidup aku tanpa ada lagi bayang-bayang dirinya. Walaupun saat ini aku berstatus akan menjadi isteri orang tapi tak bisa dipungkiri kadang masa lalu datang pada waktu yang tidak tepat dan hanya akan menggoyahkan niat hati yang sudah diputuskan. Oleh karena itu, aku sebisa mungkin tidak terjebak dalam perbincangan kita berdua. Aku mencoba untuk menjelaskannya secara dewasa.
“Adit, udahlah gak usah kamu ngomong gitu. Besok bulan depan aku akan melangsungkan acara akad pernikahanku, mungkin ini terakhir kali kita ngobrol. Dan selamat ya buat kamu yang akan melangsungakan juga pernikahanmu sebelum tanggal pernikahanku”. Aku hanya mengisyaratkan agar Adit mau mengerti.
“Din, beneran dech aku lebih sayang sama kamu daripada sama calon isteriku, aku mohon Din batalkan acara pernikahanmu itu. Nikahlah denganku! Aku akan ngasih apapun yang kamu minta. Apa kamu tega sama calon isteriku, dia cuma jadi pelampiasanku atas kekecewaanku padamu”. Adit berbicara dengan terisak sedikit tangis yang ku dengar.
“Kita udah dewasa Dit, langkah apa yang harus kita ambil udah menghadang di depan mata kita. Mungkin ini jalan terbaik untuk aku dan kamu. Kita melangkah sendiri-sendiri bersama pasangan masing-masing. Semoga kamu paham” ocehanku yang begitu panjang mengakhiri telpon itu sebelum ku dengar kembali suara Adit.
       Harapan palsu yang pernah kamu berikan padaku hanya menjadi bumerang untuk dirimu sendiri. Dulu kamu selalu tega mengombang-ambingkan perasaanku yang semakin lama semakin mengharapakanmu. Tapi kini saat kutelah memiliki orang lain, kau ingin hadir kembali dalam kehidupanku. Bukan aku yang menginginkan hal itu, tapi kamu yang membuatku untuk jauh melupakanmu. Terlalu banyak hal yang sering membuat aku sakit hati darimu, terlalu banyak air mataku yang jatuh pula karena kamu.
24 Oktober, hari dimana akad pernikahanmu dilangsungkan. Tak ada sedikitpun rasa kecewa dihatiku. Tak kan ada isak tangis yang keluar dari bibirku mendengar kabar pernikahanmu itu. Karena aku memang telah lama menganggap tak pernah mengenalmu, dan tanggal 7 November aku juga akan melangsungkan pernikahanku. Jauh-jauh hari aku mempersiapkan semua demi kelancaran acaraku.
Allah itu maha adil, Dia menciptakan seseorang untuk aku dan kamu dalam waktu yang bisa dibilang bersamaan. Itu artinya Allah tidak menginginkan adanya kesedihan yang membuat salah satu dari kita sedih terpaku sendiri. Allah memberiku kebahagian dan Allah juga mendatangkan kebahagaian itu pula untukmu.

=====*****=====

|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Itulah Cerpen Dari  Silvia

Profil Penulis

Nama : Silvia
Alamat : Wonosobo, Jawa Tengah
Email : candle_link@yahoo.com


Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Tulisanku

Cerpen Cinta - Hujanmu menghujamku

Cerpen Cinta - Hujanmu menghujamku
Oleh : Elmar Anugerah

Cerpen Sedih Elmar Anugerah

      Hujanmu menghujamku
Hujan,
Aku dan dia adalah insan dalam satu barisan.
Aku bergaris dia begitupun katanya.
Kau datang membawa hasrat rindu sedang terbang jadi randu.
***
Memang tak dapat ku elakkan lagi benakku terlanjur beranak parasmu. Semakin ku kembangkan lagi tarikan sudut bibirku saat itu. Dalam malam aku tuahkan sebutanmu sampai larut aku pejamkan tetap sama. Dia bersama waktu terus menghabis dengan peristiwa-peristiwa yang terekam selama 5 tahun menyalin sebuah jalin. Tapi entah halang bagiku kelak, hanya harap semakin kuat membawanya bersama duduk berikrar. Aku bergeming. Esok saat mentari mulai beranjak dari singgahannya akan kubuang rindu hati dalam ruang. Lalu terpejam.

sinar menyorot tajam dari sudut kaca jendelaku yang terbuka lebar dari tirainya lalu cepat  terhalau kedua telapak tanganku membenahkan penyinaran yang terlalu mengeksposku . Aku masih terbungkus rapih dengan selimutku berdiam sebentar melirik sedikit ke sudut meja yang berkedip. Terjelengkat duduk sembari  menyerngit segurat senyum setelah membaca notif BBM-ku.

Sekilas kupikirkan yang tak pernah terpikirkan, dia adalah kilasanku, selama aku menjalin apa yang ku nilai terhadapnya berbeda dengan notif yang ku tatap intens saat ini, tidak pernah dia merindu sampai kabar terdengar sebelum aku. Bahkan hujan sebelum terlelap aku baru melotarkan sebutanmu. Mungkin debit sayangnya bertambah tinggi berenda rindu yang bergulir dari waktu ke waktu.

“aku menunggumu.’’   Segera ku balas.

 ***

Malam mengahampar luas di altar langit dengan bintik-bintik berkilau yang menghamburnya, terabasan ombak berkejap-kejap memecah hening. semilir angin laut terus menghempas dingin sampai tulang rusuk hingga mendesir darahku. Pada hamparan pasir pantai sundak aku duduk menekuk lutut sampai tangan berpangku bahu terhadapku. Aku kira amora, padahal memang amora. Langsung mensejajari posisi singgahku.

Sekarang hening yang memecah riak ombak. Seperti baru saling mengenal terus mendalami keheningan. Sampai tidak terasa telah menyandarkan kepala. Berdua saling mengkhusukkan tatapan pada laut yang mengalunkan sebuah nada. Sebutanku hanya dijawab senandung sederhana.

“hmm?’’

“ada apa?’’ pertanyaanku direnggutnya kembali dalam diam. Malah seperti pertanyaan yang berbalik menghujamku. Aku semakin terjelma dalam keraguan. Lalu mencoba mencengkram kuat jemarinya.

“mas, aku minta putus.’’

Terngiang jelas di telingaku. Sontak mataku membulat. Aku benar-benar tidak memikirkan apa yang seharusnya aku pikirkan. Mungkin ruangnya tidak dapat menampung banyak debit kerinduan yang melumer atau ini bentuk luapan kerinduan yang membuncah?  Ku kira kita dapat menjadi kata. Tapi salah!

“ kenapa ra ?’’ timpalku tidak percaya.

Aku merengkuh bahunya terus menatap intens sampai manik matanya kini mulai berair.

“pesawatku take off pukul 08.15 aku menunggumu, aku harap kau mengantarku.’’ Kalimatnya lalu tangan membekap mulut menahan luapan tangisnya.

Sungguh aku tidak menduga garis ini. Dadaku serasa teriris tipis-tipis dengan sembilu paling tajam. Luka disana kian asin oleh angin laut yang mendesir lembut namun menyeretku dalam kerapuhan. Lidahku  kelu, tubuhku kaku, hatiku membeku. Detik demi detik menjadi menit dari menit ke menit hingga berjam-jam bahkan hampir setiap hari sampai 5 tahun lamanya hubunganku dapat kandas sia-sia bertukar asa.

Kini diam telah merenggut kehangatan. Berhadap ku kuatkan untuk menopang, melihat mata yang kini sayu terus merunduk  tak mampu membalas tatapan mataku. Lembar yang telah melebur bercampur isak merasuk dalam hati melumpuhkan olah pikirku. Belum sempat aku mengatakan sesuatu tapaknya meninggalkan jejak padaku.

aku mencoba menahannya ya aku sangat menjaganya, kutarik nafas dalam-dalam lalu aku hembuskan perlahan  namun nihil aku tidak bisa membendungnya, bulir-bulir air mataku jatuh, aku menangis sejadi-jadinya, jari-jemariku mengepal banyak butir pasir sekelilingku. Tak tahan aku ingin melepasnya, teriakan yang mampu mengurangi  kerapuhanku. Lalu dengan keras aku luapkan kemarahanku memecahkan keluh labuh dalam dadaku.

***
Pagi ini matahari tak melihatkan mentarinya. Berselimut hitam tebal bersama air yang bercucuran dengan derasnya. Tampaknya lembab seperti sembab pada mataku. Nampaknya semalam aku bermimpi buruk.
PING!! Terkesiap aku membaca pemberitahuan BBM-ku, malah aku mendengus kesal  pasalnya yang muncul hanya pesan tidak penting. Dia yang ku harapkan malah kabar bertiup entah kemana rimbanya.
Masih menunggu entah apa yang pasti. Sempat terhempas sebersit kecewa berdominan asa semakin meragukan langkah tidak melakukan tingkah. Kusakukan kembali ponselku lantas menekuri kesedihan yang kian jadi. Aku terkekeh saat menoreh pada detik yang berdinding, langsung mencari tapak yang dia jejakkan tanpa memperdulikan pakaian yang kukenakan tanpa memperdulikan derasnya hujan yang mengguyur.

Aku melaju dengan kecepatan melebihi rata-rata . Aku mengejar waktu tanpa memperdulikan keselamatanku, mencoba menahan langkahnya agar tingkah tidak jauh disana. Kembali kebahagiaan tidak memihak padaku, aku menghubungi ponselnya tapi tidak ada jawaban, message aku pun tidak dibalasnya, BBM-nya tidak aktif. Pikiranku kacau kulampiaskan pada pedal gas mobilku mempercepat kelajuan. Tiba lampu LED berkedip lalu bergegas membaca mention yang masuk pada account-ku.

‘’penerbangan Chicago.’’

Harapanku menipis terlekang waktu. Kumohon aku hanya ingin menjamah tangannya untuk terakhir ini, jika tidak aku harap dapat melihatnya melontarkan senyum sebagai salam perpisahan bagitupun aku. Sayang aku terlambat mencerna isi hatiku. Sedikit mengerang menahan sakit lantaran hantaman keras pada kepalanku.

***
Tiba pada Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Aku terus berlari sambil melihat sekelilingku. Tangan ku meremas di bagian dada dengan simbah air yang terus mengalir lewat celah bibirku. Berulang  menyebut kata Chicago  sambil menunjuk pada papan informasi penerbangan. hingga mendapatkannya kembali berlari mengejar waktu 5 menit. aku terus berpacu kencang menuju terminal D2 keberangkatan luar negeri.

senandung syahdu dari dadaku berdetak sangat kencang bak genderam mau perang. Agak merukukkan badanku dan mengatur nafasku sebentar . Sampai tatapanku sudah tak asing lagi pada langkah lamban gadis berkeperawakan tinggi dengan rambut menjuntai sebahu lalu berteriak lantang untuk menghentikan asumsinya. Gerak tubuhku di tahan sangat kuat saat aku memaksa ingin menerobos. Ketakutanku semakin melonjak melihatnya memasang headset pada telinganya lalu mengacuhkan histerisku dan semakin berlalu dari jauh pandangku.

Jejak-jejak resah aku tapaki merekahkan amarah yang menggeram. Tidak berhasil meredam gejolak di ulu hatiku. Aku berjalan gontai pada padang luas kemudian melemas hingga tak kuasa menopang berdiriku. Aku diterpa cerita yang menuntut derita. Pada luas apa bulir ini ku tadahkan, Pada lapang apa kepala ini ku sandarkan! Aku terus menghanyut dalam isak seketika ambruk serempak pada deras yang kembali mengguyur.

Hujan, hadirmu membasahi alamku
Debitmu berduyun membawa aliran tangis deras
Lewat sela mataku
Isak tak dapat ku bekap
Sesal terus menghujam
Kepal tak dapat ku eratkan lagi
Lutut hanya bersimpuh pada luas sekelilingku. Aku bergeming.

lampu LED kembali berkedip mengisyaratkanku segera membaca pemberitahuan yang ternyata hanyalah Broadcast message yang berbunyi :

"kau penunda suka menunda makalah sesal tak pernah tertunda."
Profil Tentang Penulis: Assalamualaikum WR. WB.

Hai teman-teman. Namaku Dahlil tiyas prabandari, aku duduk dibangku kelas x-1 SMAN4 Kab. Tangerang. Hobiku banyak salah satunya menulis saat senggang dan membaca sebagai informasi dan pelengkap bahan menulisku.

awalnya tidak kemudian sangat. Berikut kutipannya :

sambil berkutik pada soal latihan pelajaran matematika yang merenggut sisi humorisku saat itu. aku memaku pandangan pada perkataan yang tertera di layar ponsel via message dan mendengus kesal menyebut kata dengan istilah "ALAY" kataku. pada awalnya aya tidak menanggapi istimewa pada buku-buku yang banyak bercerita
Kata-kata rumit dan merumitkan ditambah lagi saya sangat memojokkan pelajaran bahasa Indonesia sedari dulu. Menyudut pandangkan seseorang yang sangat menekuri bacaan dan terlihat menyeret dalam jurang pertapaan yang semakin terbuat mendalami setiap inci dr sekecap kata yang tertuang membuat saya terpekik melihatnya sekaligus mati penasaran pada apa yang tercerna dalam pikiran mereka setelah membaca sampai tak sedikit seseorang berpuas dengan gelak tawanya hingga situasi melanklonis sangat tercipta sampai tersedu-sedu. saat itu hanya kata
"apaan sih!" sambil menyimpan banyak pertanyaan. Tiba-tiba temanku bercerita apa yang dia bayangkan tentang beratus lembar yang dia lahap sendirian. Lalu menawarkan pedaku untuk lebih mengetahui apa yang dituturkannya. Aku terima saja untuk menjawab pertanyaan yang beranak tanya pada benakku.

Hanya melihat covernya saja saya mulai menyukai. Saya mulai asik melahap bab demi bab sambil membayangkan tokoh itu adalah aku. Tentu saja novel remaja tentang percintaan. Bagaimana aku tidak terlarut dalam sajak-sajak yang menyelamiku dalam-dalam dan terhanyut pada lembarnya. Karena sangat menikmati dengan sehari saja aku bisa menghabiskan tiap-tiap tebalnya.
Setelahnya rasa keinginan besarku yang ingin membuat berita melebihi cerita yang kubaca kali pertama.

Awalnya hanya waktu yang kukejar dengan kepercayaan diri yang melebihi batas tampung untuk menyelesaikan ceritaku yang sangat singkay bahkan bisa disebut cerkat (cerita singkat) kataku. Alhasil pemikiran yang tertuah menjadi tulisan kali pertamaku yang berintikan cinta sejati itu tidak membuat para pembaca (reader) berekspresi seperti yang kulihat pada reaksi temanku. Tentulah kegagalan sangat membuatku menyebut kata asa.

Dering ponsel yang bertanda message masuk kembali membuatkuMenggariskan senyum kecutku, pasalnya kembali pesan dengan kata yang kusebut "alay" lagi mendatangiku. Berikut dengan karya tulisnya yang dia share padaku sampai aku mengagumi karena tokoh memakai artis favorite-ku ditambah penggunaan EYD yang benar membuatku semakin tertakjub. Hanya kata
"apa aku bisa seperti itu bahkan lebih, lalu kapan?"

sudah sekitar satu bukan aku belajar merakit kata demi kata yang aku bisa. keadaan musim yang sudah memasuki musim penghujan aku berselimut pada gelap malam menatap derasnya air berembun pada kaca jendelaku kemudian terlintas aku mendapatkan inspirasi Membuat cerita dengan kata 'hujan' lalu kukembangkan sampai teman-temanku benar-benar terkesan membacanya walau aku tau masih banyak penulis proporsional diluar sana. Kini dengan tanggapan dr salah satu kawanku yang sangat positif dan membangun menjadikanku lebih semangat dalam menulis dan membaca.

Waktu memang sangatlah berharga setiap detiknya. Asalkan melakukan hal yang positif seperti hal-nya menulis maupun membaca kita dapan mengetahui banyak variasi inspirasi yang tertores jadi tulisan. Dengan membaca kita mengenal dunia dengan menulis maka dunia mengenal kita. Jadi tetaplah menulis
waktu memang sangatlah berharga di tiap detik putarnya. Asalkan melakukan hal positif seperti hal-nya menulis maupun membaca kita dapat mengetahui banyak variasi inspirasi yang tertores jadi tulisan. Dengan membaca kita dapat mengenal dunia begitupun dengan menulis maka dunia mengenal kiya. Jadi menulislah apa yang kamu pikirkan walau hanya satu kalimat. Menulis, menulis, dan menuslah !

|T|H|A|N|K|'S| |F|O|R| |R|E|A|D|I|N|G|

Itulah Cerpen Dari  Elmar Anugerah

Alamat facebook :
Dahliltyas@yahoo.co.id
Alamat rumah :
Kompek asrama 203 . Kota tanggerang.
Maksih banyaaaak.
Tyas ;)


Punya Cerpen Juga Atau Puisi silahkan kirim ke blog ini dengan menuju link Kirim Tulisanku

Cerpen Cinta - Janji Terakhir

Berikut ini adalah update sebuah cerpen cinta yang bisa anda baca di sela sela kesibukan pekerjaan ...

JANJI TERAKHIR
oleh Efih Sudini Afrilya

Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia., meski dia sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan sahabatku, aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku. Aku akan tetap memaafkan Elga, meskipun dia sering menghianati cintaku.

“Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya kamu selingkuh! Kamu udah ngancurin kepercayaan aku!”

Aku tidak sanggup menatap matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan Dia memelukku erat.

“Maafin aku Nilam, maafin aku! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji Nilam. Aku sayang kamu! Please, kamu jangan nangis lagi!”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tidak ingin kehilangan Elga, aku sangat mencintainya.

Malam ini Elga menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun biru pemberian Elga dan berdandan secantik mungkin. Kutemui Elga di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.

“Nilam, kamu cantik banget malam ini.”

“Makasih. Kita jadi dinner kan?”

“Ya tentu, tapi Nilam, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik Taksi?”

“Engga ko, ya udah kita panggil Taksi aja, ayo.”

Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Elga. Ini benar-benar menyenangkan, disepanjang perjalanan Elga menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahu Elga menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Elga perbuat padaku.

Kami berhenti disebuah Tenda di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Elga benar-benar mengajakku makan ditempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Elga, dia tidak mungkin mau makan di warung kecil di pinggir jalan.

“Kenapa El? Mienya gak enak?”

“Enggak ko, mienya enak, Cuma panas aja. Kamu gak apa-apa kan makan ditempat kaya gini Nilam?”

“Enggak. Aku sering ko makan ditempat kaya gini. Mie ayamnya enak loch. Kamu kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.”

Aku yakin, Elga gak pernah makan ditempat kaya gini. Tapi sepertinya Elga mulai menikmati makanannya, dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal.
Dua tahun bersama Elga bukan waktu yang singkat, dan tidak mudah untuk mempertahankan hubungan kami selama ini. Elga sering menghianati aku, bukan satu atau dua kali Elga berselingkuh, tapi dia tetap kembali padaku. Dan aku selalu memaafkannya, itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku wanita bodoh yang mau dipermainkan oleh Elga. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku.

Selesai makan Elga Nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.

“Apa dompetku ketinggalan di Taksi?”

“Yakin di saku gak ada?”

“Gak ada. Gimana dong?”

“ya udah, pake uang aku aja. Setiap jalan selalu kamu yang traktir aku, sekarang giliran aku yang traktir kamu. Ok!”

“ok. Makasih ya sayang, maafin aku.”

Saat di kampus, aku bertemu dengan Alin dan Flora. Aku sangat merindukan kedua sahabatku itu, hampir empat bulan kami tidak bersama, hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan, Alin menarik tanganku.

“Nilam, kamu sakit? Ko pucet sich?”

Alin bicara padaku, ini seperti mimpi, Alin masih peduli padaku.

“Engga, Cuma capek aja ko Lin. Kalian apa kabar?”

“Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sich dimainin sama cowok playboy kaya Elga! Jangan-jangan Elga gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan.”

“Stop Flo! Kasian Nilam! Kamu kenapa sich Flo bahas itu mulu? Nilam kan gak salah.”
“Udah dech Alin, kamu diem aja! Harusnya kamu ngaca Nilam! Kenapa kamu diselingkuhin terus!”

Flora bener, jangan-jangan Elga gak sayang sama aku, Elga gak cinta sama aku, itu yang buat Elga selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Elga dan takut kehilangan Elga. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Elga padaku. Jika benar Elga tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.

Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Elga bersama seorang wanita. Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangiku. Mungkin Elga menghianatiku lagi. Kali ini aku tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat wanitaitu, sangat jelas, dia sahabatku, Flora….

Sungguh, aku benar-benar tidak bisa memaafkan Elga. Akan ku pastikan, apa Elga akan jujur padaku atau dia akan membohongiku, ku ambil ponselku dan menghubungi Elga.

“Hallo, kamu bisa jemput aku sekarang El?”

“Maaf Nilam, aku gak bisa kalo sekarang. Aku lagi nganter kakak, kamu gak bawa mobil ya?”

“Emang kakak kamu mau kemana El?”

“Mau ke…, itu mau belanja. Sekarang kamu dimana?”

“El! Sejak kapan kamu mau nganter kakak kamu belanja? Sejak Flora jadi kakak kamu? Hah?!!”

“Nilam, kamu ngomong apa sayang? Kamu bilang sekarang lagi dimana?”

“Aku liat sendiri kamu pergi sama Flora El! Kamu gak usah bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin kamu El! Kenapa kamu harus selingkuh sama Flora El? Aku benci kamu! Mulai sekarang aku gak mau liat kamu lagi! Kita Putus El!”

“Nilam, ini gak…….”

Kubuang ponselku, kulaju mobilku dengan kecepatan tertinggi, air mataku terus berjatuhan, hatiku sangat sakit, aku harus menerima kenyataan bahwa Elga tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku.

Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Elga, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Elga datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Elga sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkan Elga, dan janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Elga yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari.

Hari ini kuputuskan untuk pergi kuliah, aku berharap tidak bertemu dengan Elga. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Elga ada dihadapanku.

“Maafin aku Nilam! Aku sama Flora gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Nilam!

“Kita udah putus El! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang kamu bebas! Kamu mau punya pacar Tujuh juga bukan urusan aku!”

“Tapi Nilam…..”

Aku berlari meninggalkan Elga, meskipun aku sangat mencintainya, aku harus bisa melupakannya. Elga terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tak pedulikan dia, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan, dan…………

“Elgaaaa…..”

Elga tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepala Elga.

“Elga, maafin aku!”

“Nilam. Ma-af ma-af a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi a-ku cin-ta ka-mu a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”

“Elgaaaaaa……”

Elga meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Elga semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Elga menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan.
Rasanya ingin sekali menemani Elga didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

Satu minggu setelah Elga meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersama Elga yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyuman Elga, tatapan Elga, takan pernah bisa kulupakan.

“Nilam sayang, ini ada titipan dari Ibunya Elga. Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biar Elga tenang di alam sana. Ibu yakin kamu bisa!”

“Ini salah aku Bu. Aku butuh waktu.”

Kubuka bingkisan dari Ibu Elga, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.

    Dear Nilam,
    Nilam sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo Cuma kamu yang terbaik buat aku, Cuma kamu yang aku cinta.
    Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita.
    Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu Nilam.
    Love You
    Elga


Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Elga, aku berlari menghampiri Ibu dan memeluknya.

“Bu, aku udah nikah sama Elga!”

“Nilam, kenapa sayang?”

“Ini!” Kutunjukan cincin pemberian Elga dijari manisku.

“Nilam, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!”

“Sekarang aku mau cerai sama Elga Bu!” kulepas cincin pemberian Elga dan memberikannya pada Ibu.

“Aku titip cincin pernikahanku dengan Elga Bu! Ibu harus menjaganya dengan baik!”
Ibu memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.
*****

Cerpen Cinta - Aku Pasti Kembali

Update cerpen cinta yang cetar membahana... silahkan disimak.

Aku Pasti Kembali
Karya : putri ayu pasundan

Namaku jelita, aku sekolah di sma vanderwaald. Aku duduk di kelas 1 sma. Aku termasuk siswa yang pandai, dan juga mudah bergaul. Aku mempunyai seorang sahabat dia bernama putra. Putra adalah sosok sahabat yang baik, perhatian, dan selalu mengerti keadaanku, dilain waktu saat aku bersedih, dia yang selalu menghiburku. Suatu ketika dia memendam perasaan yang sama dan aku juga merasakannya.

“jelita..” panggil seseorang itu dari arah belakang. Dan itu sahabatku putra.

“iya put..? ada apa?’’ tanyaku.

“pulang sekolah , ikut aku ya.. aku mau ngajak kamu ke suatu tempat.”

“oke baik.”

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, putra langsung menghampiriku dia sudah berdiri tepat di ambang pintu kelasku. Dia memanggilku sambil tersenyum.

“jelita.. ayok kita berangkat.”

Putra tiba-tiba mengandeng tanganku , menuruni anak tangga, Dan segera menuju ke area parkir. Kelas kami berada di lantai 3 . Aku dan dia berbeda kelas . Sejak smp kita selalu bareng. Dan sampai SMA ini. Setelah kami tiba di area parkir, putra mengeluarkan motornya yang terparkir dekat pos satpam.

“ayok naik.” Putra mempersilahkan aku untuk naik ke motornya, dan kini kami berangkat meninggalkan area parkir. Juga sekolah.
“kita mau kemana?’’ tanyaku kepadanya.

“ke suatu tempat. Dan kamu pasti suka.” Setelah beberapa menit di perjalanan , kami pun sampai di tempat tujuan. Ternyata putra mengajakku ke sebuah taman bermain. Di taman tersebut . terpampang air mancur yang begitu indah, banyak sekali bunga-bunga yang berwarna warni. Kami berdua duduk di kursi dekat taman.

“jelita… “ panggil putra kepadaku, sorotan mata tajam nya yang takkan pernah ku lupakan sejak dulu . deg…. Jantungku berdebar-debar. Aku tak mengerti tentang perasaan ku padanya, sudah 5 tahun kami bersama.. saling melengkapi satu sama lain. Tapi, tak pernah aku mengerti hubunganku dengannya.. yang aku tau, aku dan dia bersahabat.

“putra, kok nangis?’’ tanyaku padanya. Putra meneteskan air matanya perlahan demi perlahan . ku apus air matanya yang membasahi kedua pipinya..

“aku gak nangis, aku Cuma bahagia aja punya sahabat kaya kamu.” Di usap rambutku dengan kelembutan tangannya. Putra memang sahabatku , dan juga kakak bagiku. karena itu aku tak mau kehilangannya.

“jelita, suatu saat nanti, aku gak bisa terus berada di sisi kamu, kamu harus bisa nantinya tanpa aku. Aku gak mau terus-terusan jadi benalu yang selalu ada di hidupmu. Kamu harus bisa jalani hidup , dan mungkin tanpa aku. ingat janji kita dulu. Kalo kita akan selalu bersama.”

“putra kok ngomongnya gitu, tanpa kamu hidup jelita ga mungkin seceria ini. Karna kamu, hidup jelita bahagia dan lebih berwarna. Kalaupun nantinya putra ninggalin jelita, jelita akan cari putra sampai kapanpun dan bakal nungguin putra sampai putra kembali. Entah beberapa lamanya”

“tapi, inget. Kalo putra gak ada di samping kamu lagi. Kamu janji harus selalu tersenyum.”

“iya, jelita janji… jelita akan selalu tersenyum untuk kamu.”

Hari sudah semakin berlarut. Meninggalkan semua kisah yang ada. Taman tersebut menjadi ikatan janji mereka.

***
Keesokan harinya di sekolah, tepat pukul 06:15 menit.

“jelita, ini ada surat untuk kamu.”dihampirinya jelita , Di kasihnya sepucuk surat itu untuknya yang terpampang besar siapa nama pengirim surat itu. yaitu “putra” .

Deg…… hati jelita tiba-tiba gelisah tak menentu. Tak mengerti apa yang sedang iya rasakan saat ini. Di bukanya isi surat itu perlahan.

“jelitaa… ini aku putra, maafin aku ya kemarin aku gak sempet berfikiran untuk ngomong ke kamu. Karna semua itu terlalu berat untukku. Aku gak sanggup ninggalin kamu disini. Mungkin, saat kamu baca surat ini aku sudah tiba di Kalimantan. Papaku dinas disana, dan terpaksa aku ikut dengannya. Maafin aku ya jelita. Inget janji kita. Kamu harus tetap tersenyum. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi.“

Di akhirinya akhir surat itu. Jelita yang hanya bisa diam membisu dan pucat pasi di tempat duduknya. Perlahan iya menteskan air mata dan tidak percaya akan semuanya. Tak pernah iya mengerti akan semua perasaannya. Sedih, kecewa, semuanya yang iya alami saat ini. Tak sempat iya mengatakan tentang perasaannya yang sebenernya kepada putra. Cinta… mungkin ini yang aku rasakan. Perasaan itu tak pernah ku sadari sebelumnya, setelah kepergianmu baru aku menyadari.. cinta itu ada.

***
Setelah pulang sekolah, aku bergegas untuk pergi kerumah putra. Tetapi hasilnya nihil, tak ada satupun orang yang menjawab sapaanku. Rumah itu kosong. Jelita tak tau harus mencari putra kemana lagi. Akhirnya , aku memutuskan untuk pergi ke Taman kemarin, terakhir kali aku bertemu dengannya, bersamanya…. Taman itu sepi.. tak seperti biasanya, tak banyak orang yang lewat area taman bermain itu. dihampirinya kursi taman tempat aku duduk bersama putra waktu itu. Aku mengingat kembali perpisahan terakhirku dengannya. Aku meneteskan air mata.

***
Setelah 2 tahun aku menunggu, putra tak juga ada kabar. Selama itu aku tak pernah seceria dulu. Hanya kesedihan yang tampak di wajahku. Sesering kali aku mengingat kenangan itu, itu membuatku sakit. Sekalipun aku mencoba melupakannya, itu akan semakin sakit. Beberapa sering aku memutar lagu pasto’aku pasti kembali’ liriknya yang benar-benar menyentuh hatiku.

Reff : aku hanya pergi tuk sementara..
bukan tuk meninggalkanmu selamanya..
aku pasti kan kembali, pada dirimu ..
tapi kau jangan nakal.. aku pasti kembali…..

selama 2 tahun, kenangan itu menghantui harii-hari ku . tang sanggup aku melupakannya. Kini aku benar-benar mencintainya. Cinta bukan lagi sekedar sahabat , tetapi perasaan yang lebih dari pada itu.

hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 17 , sekarang aku sudah duduk di bangku kelas 3 sma, sekalipun aku ingin pindah ke lain hati dan berpaling dari putra, aku masih takut. Karena luka yang ada di hatiku masih ada. Setelah malam kian tiba, putra tak juga mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Padahal hanya sapaannya, dan ucapannya yang begitu berarti untukku..

hari ini sweet seventeen ku. Dan mungkin itu semua tak ada artinya kalau putra tak ada di sampingku. Malam ini aku ingin sekali pergi ke taman itu. untuk menenangkan diri disana, mungkin hanya beberapa saat. Aku akhirnya memutuskann untuk pergi kesana dan meninnggalkan acara dan tamu undangan yang telah hadir di pesta ulang tahunku yang ke 17 itu. aku pergi ke sana dengan di temani supir papaku dan setelah beberapa menit di perjalanan, aku tiba di taman itu. aku tak menyangka.. begitu indah suasana taman tersebut dengan lampu lampion-lampion yang khas terpampang disana. Dekorasi lampu-lampu kecil di setiap pohon yang mengelilingi menambah indah suasana taman itu. aku duduk di kursi putih taman itu. tiba-tiba beberapa saat aku memejamkan kedua mataku dan membukanya kembali aku melihat sesosok putra di depan mataku. Dia tampak berbeda dari dahulu, aku tak percaya kini dia ada di depan mataku, atau mungkin ini hanya ilusiku.

“happy birthday jelita.. aku nepatin janjiku kan , kita pasti bertemu kembali. Dan aku pasti kembali.”

“ini benar kamu?’’ tanyaku tak percaya.

“iya, ini aku. aku putra.”

“kemana aja kamu, kamu gatau aku disini sedih mikirin kamu, kamu gak ada kabar dan hilang gitu aja.”

“maafin aku, aku Cuma gak mau ganggu konsentrasi belajar kamu.”

Putra menghampiriku dan memberiku sekotak bingkisan tanda ucapan ulang tahunku. Dan ternyata itu adalah sebuah kalung yang berukiran tulisan nama kita berdua. Gaun cantik yang aku kenakan malam itu saat ulang tahunku berwarna putih, dan juga putra, membawa bunga mawar merah kesukaaanku dan ia mengenakan jas kemeja putih.

“aku janji gak akan ninggalin kamu lagi. Aku gak bisa tanpamu. Aku mencintaimu, aku sayang kamu jelita.” Kini dia menggutarakan isi hatinya, hanya itu kata yang aku tunggu selama ini dari mulutnya.

“akupun begitu. Ini adalah hari terindahku. Kamu kembali, untuk menjadi sahabatku, juga kekasih bagiku…..”

_The end_

Cerpen Cinta - Pergilah Kau

Berikut ini adalah update artikel cerpen cinta remaja untuk anda yang hoby membaca cerita pendek tentang cinta..

PERGILAH KAU
Oleh: dellia riestavaldi

Hallo namaku Evelyn Pahlevi, aku baru duduk di bangku kelas 11 SMA. Aku ingin bertanya sama kalian, cinta itu apa? sayang itu apa? Apakah cuek sama cinta itu sama? Setahuku tidak. Kalau kalian lihat orang kalian cintai atau sayangi itu down, apa yang kalian lakukan, ga musti diem aja kan Cuma ngliat doang,, kalau aku, aku bakal samperin dia, nghibur dia, nemenin dia. 

jam menunjukan angka 7.15, udah seharusnya aku berangkat sekolah. Dan sesampainya di sekolah aku langsung duduk ditempat dudukku, dan menoleh ke belakang kearah meja brian. Brian Syahreza adalah sahabatku, tapi itu dulu. Semenjak ulang tahunku yang ke 16, dia berubah padaku, perhatiannya melebihi seorang sahabat. Kita udah deket semenjak kenaikan kelas XI, itu juga karna dia nyambung sama aku enak di ajak bercanda. Akhir-akhir ini kita deket kesana kesini bareng.
Awal bulan mei aku di beri cobaan oleh tuhan, seorang cewe yang gasuka terhadap kedekatan ku dan brian, dia Fera. Fera dulu juga dekat dengan Brian, tapi mereka ga sampe jadian. Teman-teman Fera melabrakku, dengan tuduhan aku merebut Brian dari Fera, entah apa yang harus ku lakukan, toh faktanya emang Brian kan gapernah jadian sama Fera. DEKET? Ya tapi itu dulu pada saat mereka kelas 10. Disini aku di aku belajar menjadi sosok pribadi yang kuat, sabar dan tidak menghiraukan mereka yang iri padaku. aku tak memikirkan masalah itu, karna hati aku yang terpenting bukan mereka.

Aku cape harus bolak-balik wc untuk membuang air mata kepedihan ini, aku ga kuat nahan air mata di depan Brian. Setiap kali aku menatap matanya aku bertanya dalam hati “apakah kamu benar mencintaiku, taukah aku hanya bonekamu?”, sikap cueknya itu membuatku perih dan sesak di dada. Aku harus bertahan, mungkin aku belum terbiasa dengan sikapnya, harus selalu optimis berfikir tentang dia. Prinsipku “jika kita ingin di mengerti oleh mereka, kita juga harus mengerti mereka” yup aku harus ngertiin dia. Berminggu-minggu aku dekat padanya, tapi dia sama sekali belum menyatakan perasaannya, aku rasa aku harus menunggu dan dia juga butuh waktu, dan aku yakin dia punya cara tersendiri buat ngungkapinnya 

hari ini upacara bendera libur dulu soalnya ujan nih pagi-pagi, aku dari dulu gasuka HUJAN ya H-U-J-A-N, aku gasuka petir. Aku duduk diam di bangkuku dan lalu aku menoleh ke arah Brian yang sedang menikmati music yang ada di speaker porttablenya, aku terus menatapnya dan bicara padanya.

               “Yan, ganti dong lagunya, aku gasuka lagunya.”

dia melihat ke arahku, dan dia malah buang muka padaku. Aku langsung terdiam dan membalikkan badanku ke arah papan tulis. Dia gasuka ya sama aku, sampe dia gtuin aku? Hmm.
aku masih sabar soal itu, aku menoleh teman sebangku ku, aku meminjam LKS nya, tapi terdengar dari suara di belakangku “aku dulu lyn yang minjem” aku langsung melempar LKS itu kearah mukanya. Dan aku langsung lari ke WC, aku langsung kunci pintu dan menyalakan air keran, supaya ga ada yang tau kalau aku nangis. Aku baru sadar sahabatku Nessa dan Dicky tau kalau aku pergi sendirian pasti ada sesuatu hal yang terjadi kepadaku, aku langsung mengusap air mataku, dan mencuci muka ku, aku keluar dari WC itu, lalu aku berjalan menuju kantin. Aku ga peduli aku harus kehujanan, walaupun hujannya ga terlalu lebat. Aku memesan teh hangat, dan langsung duduk di meja kantin, ku pandangi Blackberryku. tapi, ga ada satupun pesan atau bbm dari Brian. Brian tidak mengkhawatirkanku, dia tak mencariku, tiba-tiba hujan sangat lebat datang menghampiri, aku sudah tak kuat menahan rasa sakit dan air mata ini. Aku langsung berjalan menuju kelasku dengan airmata ini, se engganya kali ini hujan telah membantu ku untuk menghapus air mata ini.

Sudah 1jam aku berada di luar kelas, sebentar lagi bel pulang, aku langsung segera ke kelas dengan basah kuyup. Pas aku baru masuk kelas, mataku langsung tertuju pada Brian, ternyata dia asik-asik aja bercanda sama yang lainya, YA dia sama sekali tidak mencariku dan mengkhawatirkanku. Aku langsung mengambil tasku dan pulang ke rumah dengan motor kesayanganku, tak pandang seberapa deras hujan saat itu.

sesampainya di rumah aku langsung lari ke kamar mandi, seperti biasa aku langsung menyalakan air keran di bak mandi. Aku berdiri di depan cermin, mataku, hidungku, bibirku merah karena hujan di mataku ini, teringat Brian aku langsung menahan sesak di dada dan airmata ini. Aku menghempaskan tubuhku di lantai kamar mandiku, aku meluapkan rasa sakit itu dengan air mata. Brian gasuka sama aku, Brian ga peduli sama aku. Dari hal terkecil tadi aja dia tidak menghawatirkan aku. Sampai sekarang aku ga pernah tau perasaan Brian gimana sama aku, aku ga boleh terlalu berharap. Kalau dia ada rasa sama aku pasti dia nyari aku, tapi nyatanya engga. Aku ga boleh nangis lagi aku harus bangun dari ketepurukanku, dia ga bakal tau aku sesakit ini dan menurutku kalau cinta itu seneng susah bareng, tapi malah senengnya aja yang bareng  ya aku tau dia ga ada rasa sama aku, wake up lyn masih banyak yang lain 

               besoknya disekolah, aku masuk kekelasku dan pagi itu aku bertemu sesosok Brian, aku langsung berhenti di tempat sejenak, ku tarik nafasku ku dalam-dalam dan ku hembuskan perlahan dan aku langsung melanjutkan jalan ku kea rah tempat duduk. Brian menghampiriku, dia berbicara panjang lebar tapi sayangnya aku udah ga peduli, aku abaikan saja dia. Bel istirahat sudah berbunyi aku segera membereskan buku-bukuku di atas meja, aku berdiri dari tempat duduk ku, Brian menarik tanganku, dia berbicara dengan nada pelan kepadaku.

          “lyn, kamu kenapa?” Tanya Brian.

          “menurutmu aku kenapa? Jawabku.

          “kamu beda lyn, aku salah apa sama kamu?” nada yang semakin pelan.

          “kamu bilang aku beda? Aku kaya gini karna karna kamu? Sudahlah kamu itu engga pernah peduli sama aku Yan, dan sekarang kamu gausah sok sokan peduli gitu sama aku huh.” Nadaku agak tinggi.

aku perlahan pergi meninggalkan Brian, tapi Brian menarik tanganku.

“tapi tunggu lyn, aku sayang kamu.”

“oh gitu ya, kemarin-kemarin kamu kemana, saat aku butuhin yang ada malahan kamu asik-asik sendiri kan sama temen-temen kamu, aku pergi dan kehujanan kemarin, apa kamu khawatirin aku? Engga Yan kamu engga peduli sama aku, sekarang kamu se enaknya bilang sayang, emang aku apaan Yan ?” kesalku

“Lyn dengerin penjelasan aku dulu.” Rintihnya.

“aku ga butuh penjelasan apapun dari kamu yan, semuanya udah jelas kok!” suara lantang keluar dari mulutku, lalu aku langsung melepaskan genggamannya dan kemudian aku pergi meninggalkannya.

aku berjalan entah kemana, aku gapunya tujuan, yang tadinya mau ke kantin, Nessa dan Dicky ninggalin aku. Tetes demi tetes air mata ini mulai berjatuhan, kenapa harus kaya gini sih. Aku terus berjalan sambil mengusap airmataku. Karna ini semua bukan akhir  karna sudah lama aku lelah menunggunya, menunggu kepastian hubungan diantara kita itu apa. Ternyata aku baru sadar orang yang mencintai kita adalah orang yang memperdulikan kita  seperti sahabat-sahabatku Nessa dan Dicky.

*****